by Anto | Suradiyanto - Mon 02:47:21 Nov 25 2019

picture Knowledge management (KM) nampaknya semakin menjadi topik seksi dalam dunia bisnis saat ini. Meskipun sejatinya KM sudah lama dikenal di Indonesia, dan juga sempat diacuhkan oleh banyak perusahaan kala itu. Pasalnya, KM dianggap tidak menunjukkan pengaruh konkret bagi pencapaian tujuan perusahaan.

Kemudian era berubah, teknologi berkembang sangat pesat. Kini pandangan berbagai perusahaan di Indonesia telah bergeser, KM telah dianggap dapat menjadi kekuatan daya saing jika dimanfaatkan secara tepat. KM seakan hanya power in reserve jika tak pandai menggunakannya.

Sekedar memilikinya saja tidak serta merta dapat memperoleh manfaat. KM harus digerakkan oleh tim yang paham betul apa tujuan implementasi KM dan bagaimana mencapainya. KM tentu bukan hanya sekedar untuk mendukung lingkungan yang memungkinkan pekerja bisa saling sharing cara menyelesaikan suatu masalah, namun juga dapat menjawab bagaimana menyediakan knowledge yang mudah ditemukan pada saat dibutuhkan.

Re-use knowledge, poin inilah yang menjadi pokok bahasan pada KM Summit 2019 minggu lalu di Bandung. Bagaimana menjadikan knowledge sebagai innovative learning sehingga pegiat KM di perusahaan tak terjebak hanya pada proses pengumpulan knowledge semata dan malah melupakan hal esensial seperti bagaimana menyediakan akses mudah dan cepat untuk menggunakan knowlede tersebut.

Pengetahuan yang hanya disimpan dan tidak dialirkan, akan kuno dan akhirnya mati. Kemampuan daya saing perusahaan yang berbasis KM bisa dibangun dengan strategi tepat mengalirkan pengetahuan dan dapat menggunakan pengetahuan sebagai energi penggerak pencapaian tujuan-tujuannya.

Tak ada inovasi dari otak yang kosong

Knowledge management is about human. Platform hanya berperan sebagai sarana dan alat semata, pemain utama implementasi KM berada pada sumber daya manusia yang dimiliki.

Maka pegiat KM dalam perusahaan, mengawalinya dengan memberikan perhatikan terhadap pengembangan sumber daya manusia yang dimiliki. Meyakinkan bahwa pasukan KM siap sebelum mengawali langkah dan bahkan melangkah lebih jauh. Tanpanya KM bisa berbalik arah dan menjadi beban yang tak hanya besar dari sisi cost yang dikeluarkan, namun juga bisa menjadi program yang tak memiliki arah dan ukuran yang jelas.

Tambahan lagi, kita tengah berada era disruption. Disruption sendiri dapat diartikan sebagai inovasi yang bisa membuat segala sesuatu yang dilakukan incumbents bakal usang, ketinggalam zaman. Era yang katanya disebut sebagai era ancaman besar bagi para penguasa pasar. Jika mereka gagap dalam berinovasi, mereka akan segera kehilangan pasar.

Saya kutip dari pakar manajemen, Rhenald Kasali, saat ini pilihannya bukan lagi antara change or die, tetapi disrupt or being disrupted. Perusahaan tak cukup hanya mengandalkan kekuatan respons yang ia miliki, namun ia juga harus menjadi lebih active berinovasi terhadap perubahan yang terjadi.

>Jika Anda menemukan solusi atas masalah Anda yang sekarang, jangan berhenti dan berpuas diri. Anda harus bersiap-siap karena solusi itu bisa jadi akan menimbulkan masalah lain lagi bagi Anda dikemudian hari.

KM memerlukan cara-cara segar dan baru dalam pengaplikasiannya, KM akan jalan ditempat tanpa disertai inovasi. KM hanya akan berjalan exponansial jika berawal dari ide-ide baru, bukan sekedar to now something new, but to create something new. Namun celakanya, inovasi tak bisa lahir dari pekerja yang malas bergerak dan terbuai oleh kamuflase zona nyaman.

Implementasi KM, the challenges!

Rata-rata, 46,48% komposisi pekerja pada perusahaan di Indonesia adalah generasi milenial. Oleh karenanya sangat familiar dengan teknologi, bahkan saya teringat kiasan salah satu pakar manajemen yang menggambarkan betapa dekatnya generasi milenial dengan teknologi, yaitu: generasi milenial adalah generasi yang ketika lahir, telah memegang mouse di tanggannya.

Yang menarik adalah, meskipun aplikasi KM berbasiskan teknologi, mengenalkan program perusahaan melalui teknologi yang kaum milenial sudah sangat familiar bukanlah perkara yang mudah? Bahkan sebagian malah menyatakan sulit. Jangankan untuk mengubah dan menanamkan budaya baru, mengenalkan program ke generasi milenialpun bakal membuat kita mengerutkan dahi.

Hal ini setidaknya diungkapkan oleh sebagian peserta KM Summit 2019 ketika saya gali lebih lanjut mengenai apa tantangan-tantangan yang dihadapi ketika mengaplikasikan KM di perusahaan masing-masing. Bagi milenial, pilihan menolak atau menerima menjadi tak relevan lagi, fokus solusinya menjadi bagaimana menjawab apa untungnya bagi saya ketika menggunakan aplikasi KM diaktifitas sehari-hari.

The Solutions

Lalu bagaimana mengawalinya? Pegiat KM perusahaan besar, baik yang menjadi pembicara maupun peserta KM Summit 2019 menjabarkan kiat-kiatnya ketika mengaplikasikan KM di perusahaan.

Pertama, pentingnya komitmen dari leader. KM harus mendapatkan dukungan dari leader (top management). Dukungan leader menjadi peran kunci dalam implementasi KM. Dukungan dapat berupa SK, aturan (legal enforcement), atau kemauan para leader untuk turun sendiri dalam penerapan KM.

Hal kedua adalah mengajak milenial. Beberapa karakteristik generasi milenial adalah tech savvy, menyukai hal-hal instan, menyukai pengalaman baru, menyukai pekerjaan yang terukur, achievement oriented, team oriented, ingin berkontribusi pada perusahaan, multi tasking, mudah bosan, dan yang paling menantang adalah suka berpindah kerja.

Sebagian besar pegiat KM sepakat untuk menggunakan teknologi dalam mendekati milenial. Wajib hukumnya bagi pegiat KM untuk menyiapkan platform yang tak hanya milenial oriented, namun juga mengakomodasi kepentingan KM. KM harus menjadi platform yang fun. Platform yang dilengkapi dengan fitur-fitur menarik, gamification, emoticon, dan juga menerapkan reward system. Reward harus bersifat real time, milenial dapat menggunakan reward ini secara instan setiap saat, kapan dan dimana saja.

Langkah selanjutnya, yang ketiga adalah mengeksplorasi implementasi gamification. Membuat platform KM challenging, dengan menerapkan rangking atas berbagai ukuran misalnya: teraktif, terlike, terkomentari, teratas pada leaderboard, employee of the month, the best cashier, the best security, dan seterusnya. Achievement bisa menjadi penggerak milenial untuk terus menggunakan platform KM.

Keempat adalah KM harus dipromosikan keseluruh karyawan dan stakeholder. Melalui platform KM yang smart, secara aktif mengkomunikasikan program ngopi bareng direksi, community of practice event, expert panel, dan event seminar internal rutin lainnya sehingga program-program tersebut dapat digunakan sebagai sarana efektif mempromosikan KM.

Hal yang kelima adalah good governance, memastikan knowledge tertata dan terkelola dengan baik. Proses mengisi, mencari, dan menggunakan kembali dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Sehingga KM mudah ditemukan pada saat dibutuhkan.

picture Knowledge management (KM) nampaknya semakin menjadi topik seksi dalam dunia bisnis saat ini. Meskipun sejatinya KM sudah lama dikenal di Indonesia, dan juga sempat diacuhkan oleh banyak perusahaan kala itu. Pasalnya, KM dianggap tidak menunjukkan pengaruh konkret bagi pencapaian tujuan perusahaan.

Kemudian era berubah, teknologi berkembang sangat pesat. Kini pandangan berbagai perusahaan di Indonesia telah bergeser, KM telah dianggap dapat menjadi kekuatan daya saing jika dimanfaatkan secara tepat. KM seakan hanya power in reserve jika tak pandai menggunakannya.

Sekedar memilikinya saja tidak serta merta dapat memperoleh manfaat. KM harus digerakkan oleh tim yang paham betul apa tujuan implementasi KM dan bagaimana mencapainya. KM tentu bukan hanya sekedar untuk mendukung lingkungan yang memungkinkan pekerja bisa saling sharing cara menyelesaikan suatu masalah, namun juga dapat menjawab bagaimana menyediakan knowledge yang mudah ditemukan pada saat dibutuhkan.

Re-use knowledge, poin inilah yang menjadi pokok bahasan pada KM Summit 2019 minggu lalu di Bandung. Bagaimana menjadikan knowledge sebagai innovative learning sehingga pegiat KM di perusahaan tak terjebak hanya pada proses pengumpulan knowledge semata dan malah melupakan hal esensial seperti bagaimana menyediakan akses mudah dan cepat untuk menggunakan knowlede tersebut.

Pengetahuan yang hanya disimpan dan tidak dialirkan, akan kuno dan akhirnya mati. Kemampuan daya saing perusahaan yang berbasis KM bisa dibangun dengan strategi tepat mengalirkan pengetahuan dan dapat menggunakan pengetahuan sebagai energi penggerak pencapaian tujuan-tujuannya.

Tak ada inovasi dari otak yang kosong

Knowledge management is about human. Platform hanya berperan sebagai sarana dan alat semata, pemain utama implementasi KM berada pada sumber daya manusia yang dimiliki.

Maka pegiat KM dalam perusahaan, mengawalinya dengan memberikan perhatikan terhadap pengembangan sumber daya manusia yang dimiliki. Meyakinkan bahwa pasukan KM siap sebelum mengawali langkah dan bahkan melangkah lebih jauh. Tanpanya KM bisa berbalik arah dan menjadi beban yang tak hanya besar dari sisi cost yang dikeluarkan, namun juga bisa menjadi program yang tak memiliki arah dan ukuran yang jelas.

Tambahan lagi, kita tengah berada era disruption. Disruption sendiri dapat diartikan sebagai inovasi yang bisa membuat segala sesuatu yang dilakukan incumbents bakal usang, ketinggalam zaman. Era yang katanya disebut sebagai era ancaman besar bagi para penguasa pasar. Jika mereka gagap dalam berinovasi, mereka akan segera kehilangan pasar.

Saya kutip dari pakar manajemen, Rhenald Kasali, saat ini pilihannya bukan lagi antara change or die, tetapi disrupt or being disrupted. Perusahaan tak cukup hanya mengandalkan kekuatan respons yang ia miliki, namun ia juga harus menjadi lebih active berinovasi terhadap perubahan yang terjadi.

>Jika Anda menemukan solusi atas masalah Anda yang sekarang, jangan berhenti dan berpuas diri. Anda harus bersiap-siap karena solusi itu bisa jadi akan menimbulkan masalah lain lagi bagi Anda dikemudian hari.

KM memerlukan cara-cara segar dan baru dalam pengaplikasiannya, KM akan jalan ditempat tanpa disertai inovasi. KM hanya akan berjalan exponansial jika berawal dari ide-ide baru, bukan sekedar to now something new, but to create something new. Namun celakanya, inovasi tak bisa lahir dari pekerja yang malas bergerak dan terbuai oleh kamuflase zona nyaman.

Implementasi KM, the challenges!

Rata-rata, 46,48% komposisi pekerja pada perusahaan di Indonesia adalah generasi milenial. Oleh karenanya sangat familiar dengan teknologi, bahkan saya teringat kiasan salah satu pakar manajemen yang menggambarkan betapa dekatnya generasi milenial dengan teknologi, yaitu: generasi milenial adalah generasi yang ketika lahir, telah memegang mouse di tanggannya.

Yang menarik adalah, meskipun aplikasi KM berbasiskan teknologi, mengenalkan program perusahaan melalui teknologi yang kaum milenial sudah sangat familiar bukanlah perkara yang mudah? Bahkan sebagian malah menyatakan sulit. Jangankan untuk mengubah dan menanamkan budaya baru, mengenalkan program ke generasi milenialpun bakal membuat kita mengerutkan dahi.

Hal ini setidaknya diungkapkan oleh sebagian peserta KM Summit 2019 ketika saya gali lebih lanjut mengenai apa tantangan-tantangan yang dihadapi ketika mengaplikasikan KM di perusahaan masing-masing. Bagi milenial, pilihan menolak atau menerima menjadi tak relevan lagi, fokus solusinya menjadi bagaimana menjawab apa untungnya bagi saya ketika menggunakan aplikasi KM diaktifitas sehari-hari.

The Solutions

Lalu bagaimana mengawalinya? Pegiat KM perusahaan besar, baik yang menjadi pembicara maupun peserta KM Summit 2019 menjabarkan kiat-kiatnya ketika mengaplikasikan KM di perusahaan.

Pertama, pentingnya komitmen dari leader. KM harus mendapatkan dukungan dari leader (top management). Dukungan leader menjadi peran kunci dalam implementasi KM. Dukungan dapat berupa SK, aturan (legal enforcement), atau kemauan para leader untuk turun sendiri dalam penerapan KM.

Hal kedua adalah mengajak milenial. Beberapa karakteristik generasi milenial adalah tech savvy, menyukai hal-hal instan, menyukai pengalaman baru, menyukai pekerjaan yang terukur, achievement oriented, team oriented, ingin berkontribusi pada perusahaan, multi tasking, mudah bosan, dan yang paling menantang adalah suka berpindah kerja.

Sebagian besar pegiat KM sepakat untuk menggunakan teknologi dalam mendekati milenial. Wajib hukumnya bagi pegiat KM untuk menyiapkan platform yang tak hanya milenial oriented, namun juga mengakomodasi kepentingan KM. KM harus menjadi platform yang fun. Platform yang dilengkapi dengan fitur-fitur menarik, gamification, emoticon, dan juga menerapkan reward system. Reward harus bersifat real time, milenial dapat menggunakan reward ini secara instan setiap saat, kapan dan dimana saja.

Langkah selanjutnya, yang ketiga adalah mengeksplorasi implementasi gamification. Membuat platform KM challenging, dengan menerapkan rangking atas berbagai ukuran misalnya: teraktif, terlike, terkomentari, teratas pada leaderboard, employee of the month, the best cashier, the best security, dan seterusnya. Achievement bisa menjadi penggerak milenial untuk terus menggunakan platform KM.

Keempat adalah KM harus dipromosikan keseluruh karyawan dan stakeholder. Melalui platform KM yang smart, secara aktif mengkomunikasikan program ngopi bareng direksi, community of practice event, expert panel, dan event seminar internal rutin lainnya sehingga program-program tersebut dapat digunakan sebagai sarana efektif mempromosikan KM.

Hal yang kelima adalah good governance, memastikan knowledge tertata dan terkelola dengan baik. Proses mengisi, mencari, dan menggunakan kembali dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Sehingga KM mudah ditemukan pada saat dibutuhkan.