by Tim Ansvia - Wed 10:49:01 Oct 30 2019

Teknologi memungkinkan produk dan jasa bergerak ke arah layanan serba cepat dan praktis. Dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan untuk mudah digunakan. Dulu, mungkin Anda pernah mengalami saat dimana segala yang berhubungan dengan perangkat teknologi atau aplikasi baru, selalu identik dengan sesuatu yang sulit untuk digunakan. Kalaupun beruntung bisa mengoperasikannya, biasanya pengguna telah lolos dari kriteria-kriteria yang diwajibkan.

Kemudian disrupsi terjadi, pergerakan cara product development era ini dari user-centered (UX) menjadi super app terjadi hampir di semua industri. Saat ini, ketika suatu produk baru diluncurkan, pengguna tak lagi canggung ketika ia ingin menggunakannya. App baru bahkan terasa begitu familiar dan dapat digunakan dengan sangat mudah. Bahkan, ketika ingin menjajal semua fitur pun terasa semudah melakukan click atau mengusap (swipe) layar di perangkat yang biasa kita gunakan.

"Tak berlebihan bila publik kemudian memunculkan anekdot: ketika pengguna harus mempelajari buku manual suatu produk, maka artinya produk tersebut telah gagal memberikan UX."

Tak hanya produk baru, pemain lama pun turut melakukan pergerakan. Sebut saja Instagram. Media sosial populer ini terus melakukan perubahan dan pembenahan, baik tampilan, fungsionalitas, juga fitur-fitur yang dimilikinya. Anda sebagai pengguna, akan semakin mudah menikmati postingan atau sekadar stalking foto dan video idola. Belakangan, langkah ini kemudian diikuti oleh aplikasi sosial media lainnya.

Akibatnya, pengguna jadi betah berlama-lama scrolling status atau momen di media sosial. Bahkan hasil riset yang dilakukan oleh We Are Social, perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite menyebutkan, rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial.

UX Butuh Research

picture Kenyamanan penggunaan suatu aplikasi hingga ia begitu user friendly, hanya dapat diwujudkan oleh UX (User Experience) design team yang terus mempelajari user behaviour untuk kemudian merancang tampilan dan fitur aplikasi sesuai dengan fitur yang diminati oleh user. Secara sederhana, UX berfokus pada bagaimana menghasilkan produk yang praktis dan tidak membuat pengguna pusing saat menggunakannya.

Tantangan berikutnya adalah apps tidak hanya dituntut agar mudah digunakan, namun juga harus menyenangkan pada setiap interaksi yang ada. UX Design diwajibkan melihat setiap elemen secara detail, contoh sederhananya seperti memberikan warna yang lebih kontras untuk tombol tertentu. Selain tampilan design yang usable, produk yang menyenangkan juga diikuti oleh konten yang humanis, engaging, dan pesan yang disampikan sangat jelas.

Terus Bekerja

Pun setelah produk diterjunkan di pasaran, tugas team tersebut tidak lantas usai. Team tetap bekerja melakukan riset perilaku pengalaman pengguna dalam menggunakan aplikasi tersebut untuk semakin mudah dan nyaman digunakan.

Hasil riset ini kemudian digunakannya menjadi acuan ketika ia mengembangkan produk. Dengan begitu, produk dapat semakin memberikan pengalaman kemudahan dan kenyamanan pengguna secara maksimal. Pada akhirnya produk akan memberikan kepuasan kepada pengguna-penggunanya melalui UX yang baik.

“Betapa kini teknologi begitu bekerja keras untuk bisa memahami pengguna-penggunanya. Bak sepasang kekasih, ketika sang pria yang selalu ingin memahami kebutuhan pasangannya. Bisa jadi pengguna teknologi sudah seperti wanita yang pada hakekatnya selalu ingin dimengerti.”

UX yang baik harus memastikan bahwa produk bersifat useful, bisa menjadi painkiller, dan reliable. Produk yang tidak useful dan gagal menjadi painkiller artinya tidak menjawab problem yang dihadapi oleh pengguna. Produk juga harus reliable. Karena, ketika produk useful dan menyelesaikan masalah penggunanya tetapi tidak reliable tidak akan menciptakan pengalaman yang baik ketika memakai produk.

picture

Kesimpulan

Produk telah mengalami pergeseran. Untuk dapat diterima pasar, produk harus dirancang dengan mengedepankan user experience yang baik. Perusahaan harus terus mengevaluasi produk usability evaluation untuk dapat memahami seberapa baik pengalaman pengguna ketika ia mencoba.

Ibarat hakikat wanita yang ingin selalu dimengerti, pertarungan pasar saat ini adalah seberapa tinggi Anda memahami perilaku dan kebutuhan target pasar untuk kemudian menggunakan teknologi untuk memuaskannya.

Teknologi memungkinkan produk dan jasa bergerak ke arah layanan serba cepat dan praktis. Dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan untuk mudah digunakan. Dulu, mungkin Anda pernah mengalami saat dimana segala yang berhubungan dengan perangkat teknologi atau aplikasi baru, selalu identik dengan sesuatu yang sulit untuk digunakan. Kalaupun beruntung bisa mengoperasikannya, biasanya pengguna telah lolos dari kriteria-kriteria yang diwajibkan.

Kemudian disrupsi terjadi, pergerakan cara product development era ini dari user-centered (UX) menjadi super app terjadi hampir di semua industri. Saat ini, ketika suatu produk baru diluncurkan, pengguna tak lagi canggung ketika ia ingin menggunakannya. App baru bahkan terasa begitu familiar dan dapat digunakan dengan sangat mudah. Bahkan, ketika ingin menjajal semua fitur pun terasa semudah melakukan click atau mengusap (swipe) layar di perangkat yang biasa kita gunakan.

"Tak berlebihan bila publik kemudian memunculkan anekdot: ketika pengguna harus mempelajari buku manual suatu produk, maka artinya produk tersebut telah gagal memberikan UX."

Tak hanya produk baru, pemain lama pun turut melakukan pergerakan. Sebut saja Instagram. Media sosial populer ini terus melakukan perubahan dan pembenahan, baik tampilan, fungsionalitas, juga fitur-fitur yang dimilikinya. Anda sebagai pengguna, akan semakin mudah menikmati postingan atau sekadar stalking foto dan video idola. Belakangan, langkah ini kemudian diikuti oleh aplikasi sosial media lainnya.

Akibatnya, pengguna jadi betah berlama-lama scrolling status atau momen di media sosial. Bahkan hasil riset yang dilakukan oleh We Are Social, perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite menyebutkan, rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial.

UX Butuh Research

picture Kenyamanan penggunaan suatu aplikasi hingga ia begitu user friendly, hanya dapat diwujudkan oleh UX (User Experience) design team yang terus mempelajari user behaviour untuk kemudian merancang tampilan dan fitur aplikasi sesuai dengan fitur yang diminati oleh user. Secara sederhana, UX berfokus pada bagaimana menghasilkan produk yang praktis dan tidak membuat pengguna pusing saat menggunakannya.

Tantangan berikutnya adalah apps tidak hanya dituntut agar mudah digunakan, namun juga harus menyenangkan pada setiap interaksi yang ada. UX Design diwajibkan melihat setiap elemen secara detail, contoh sederhananya seperti memberikan warna yang lebih kontras untuk tombol tertentu. Selain tampilan design yang usable, produk yang menyenangkan juga diikuti oleh konten yang humanis, engaging, dan pesan yang disampikan sangat jelas.

Terus Bekerja

Pun setelah produk diterjunkan di pasaran, tugas team tersebut tidak lantas usai. Team tetap bekerja melakukan riset perilaku pengalaman pengguna dalam menggunakan aplikasi tersebut untuk semakin mudah dan nyaman digunakan.

Hasil riset ini kemudian digunakannya menjadi acuan ketika ia mengembangkan produk. Dengan begitu, produk dapat semakin memberikan pengalaman kemudahan dan kenyamanan pengguna secara maksimal. Pada akhirnya produk akan memberikan kepuasan kepada pengguna-penggunanya melalui UX yang baik.

“Betapa kini teknologi begitu bekerja keras untuk bisa memahami pengguna-penggunanya. Bak sepasang kekasih, ketika sang pria yang selalu ingin memahami kebutuhan pasangannya. Bisa jadi pengguna teknologi sudah seperti wanita yang pada hakekatnya selalu ingin dimengerti.”

UX yang baik harus memastikan bahwa produk bersifat useful, bisa menjadi painkiller, dan reliable. Produk yang tidak useful dan gagal menjadi painkiller artinya tidak menjawab problem yang dihadapi oleh pengguna. Produk juga harus reliable. Karena, ketika produk useful dan menyelesaikan masalah penggunanya tetapi tidak reliable tidak akan menciptakan pengalaman yang baik ketika memakai produk.

picture

Kesimpulan

Produk telah mengalami pergeseran. Untuk dapat diterima pasar, produk harus dirancang dengan mengedepankan user experience yang baik. Perusahaan harus terus mengevaluasi produk usability evaluation untuk dapat memahami seberapa baik pengalaman pengguna ketika ia mencoba.

Ibarat hakikat wanita yang ingin selalu dimengerti, pertarungan pasar saat ini adalah seberapa tinggi Anda memahami perilaku dan kebutuhan target pasar untuk kemudian menggunakan teknologi untuk memuaskannya.