by Anto | Suradiyanto - Tue 03:42:36 Oct 22 2019

picture Berbeda dengan lembaga plat merah pada umumnya, DIKPORA DIY tak kaku dalam menghadapi perubahan. Ia selalu berbenah dan melangkah gesit menghadapi hebatnya perkembangan jaman, juga terhadap tuntutan untuk selalu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakatnya.

Bulan lalu, ia membuka jalur aspirasi masyarakat melalui aplikasi Indek Kepuasan Masyarat (IKM). Aplikasi ini mengajak masyarakat untuk meningkatkan layanan yang disediakan oleh DIKPORA DIY ke tingkat lebih tinggi lagi melalui pengukuran kepuasan atas layanan yang disediakan. Ide ini terlihat sederhana, namun sejatinya bisa jadi menjadi pemikiran yang cemerlang.

DIKPORA DIY menyadari besarnya tantangan dalam langkah perubahan yang dilakukannya. Belum lagi perlu tenaga besar untuk mengikis budaya nyaman (comfort zone) yang biasa membelenggu gerakan perubahan. Tak dapat dihindari ia juga merupakan lembaga plat merah yang juga tak luput mengalami pergulatan internal yang hebat.

Bukan perkara mudah untuk membangun budaya baru yang sesuai perubahan jaman dan dapat beruntung keluar dari cengkeraman budaya-budaya nyaman. Sudah pasti ini bakal menjadi sebuah pertarungan yang panjang.

Gaung Perubahan

Sejatinya, hembusan pembenahan semakin dikuatkan pada tahun 2009, ketika United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia. DIKPORA DIY menyambut baik penetapan ini. Ini bisa menjadi trigger penguat langkah perubahan yang telah dilakukannya.

Ia yakin, Yogyakarta dengan ekosistem budaya dan keunikan batik yang dimiliki, bisa menjadi kota batik. Ia mulai melakukan gerakan perubahan, dengan mencanangkan bahwa batik harus menjadi muatan lokal sekolah yang ada di wilayah Jogja.

Langkah yang diambilnya bisa dikatakan sederhana, Ia menyiapkan dan mengundang guru dari berbagai sekolah di Yogyakarta untuk diberikan pelatihan dan pengetahuan mengenai batik. Nantinya guru ini digadang akan menjadi guru batik di sekolah tempatnya mengabdi. Langkah lain, Ia mewajibkan seluruh pegawainya menggunakan batik di hari Jum’at dan Sabtu. Sedangkan setiap hari Jum'at saja untuk pengajar dan siswa setiap sekolah di Jogja.

Benar saja. Langkah ini memberikan impact yang signifikan. Setahun kemudian, banyak sekolah yang telah menggunakan batik buatannya sendiri pada hari Jumat. Tak hanya itu, beberapa sekolah bahkan berani menyelenggarakan fashion show batik hasil karya pengajar dan siswanya sendiri.

Bola salju perubahan semakin membesar. Ditahun yang sama, DIKPORA DIY menggerakkan sekolah peduli terhadap lingkungan. Gerakannya disebut sekolah hijau, dan diperkuat dengan kerjasama dengan salah satu universitas terbaik di Yogyakarta, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Tujuan dari gerakan ini adalah agar siswa dan juga pengajar memiliki karakter peduli terhadap pelestarian lingkungan dan bagaimana mewujudkannya mulai dari diri sendiri.

Langkah lain yang juga cukup signifikan dirasakan masyarakat adalah gerakan Jogja Belajar (JB), melalui aplikasi ini DIKPORA DIY menyediakan konten pembelajaran online, berupa text, video, atau media lain yang dapat diakses free, darimanapun. Langkah ini merupakan dukungan untuk menjadikan Jogja Smart Province.

Ancang-ancang Melompat Kurva Kedua

Dalam teori perubahan, saat yang tepat untuk melakukan perubahan adalah saat mengalami kejayaan. Ketika suatu perusahaan sudah mendekati titik puncak pada kurva pertama, yang biasanya ditandai dengan pencapaian-pencapaian yang dimiliki, maka sudah saatnya ia menyiapkan energi untuk melompat ke kurva kedua.

Kini bisa jadi DIKPORA DIY pantas mendapat perhatian dari masyarakat secara lebih luas. Berbagai capaian-capaian hasil kerja keras dan komitmen mulai terlihat satu demi satu.

Melalui gerakan batik, tahun 2014, DIKPORA DIY berhasil mewujudkan Yogyakarta ditetapkan sebagai “The World Craft City of Batik” oleh World Craft Council, lembaga non profit yang mendukung pengembangan ekonomi melalui kerajinan.

Tahun 2018 lalu, JB lebih dikembangkan dan dikuatkan lagi bersama Google Indonesia, untuk mendukung misi Jogja sebagai pusat pendidikian dan berkelas dunia 2025.

Komunitas yang Ia bina, juga mulai unjuk gigi. Sebut saja komunitas robotika, yang baru-baru ini menggelar kompetisi ketangkasan pilot drone. Capaian ini diikuti dengan capaian-capain lain yang terus bermunculan.

Dan kini melalui aplikasi sederhana berupa IKM, sejatinya DIKPORA DIY berupaya memetakan sejauh mana perubahan budaya korporat yang telah dilakukannya. Menyiapkan energi, untuk melompat ke kurva kedua. Ia paham betul, kegagalan dalam melompat ke kurva kedua, hanya akan membawanya ke dalam jurang vicious cycle.

picture Semoga DIKPORA DIY berhasil menggerakkan perubahan dan mampu melompat ke kurva kedua.

picture Berbeda dengan lembaga plat merah pada umumnya, DIKPORA DIY tak kaku dalam menghadapi perubahan. Ia selalu berbenah dan melangkah gesit menghadapi hebatnya perkembangan jaman, juga terhadap tuntutan untuk selalu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakatnya.

Bulan lalu, ia membuka jalur aspirasi masyarakat melalui aplikasi Indek Kepuasan Masyarat (IKM). Aplikasi ini mengajak masyarakat untuk meningkatkan layanan yang disediakan oleh DIKPORA DIY ke tingkat lebih tinggi lagi melalui pengukuran kepuasan atas layanan yang disediakan. Ide ini terlihat sederhana, namun sejatinya bisa jadi menjadi pemikiran yang cemerlang.

DIKPORA DIY menyadari besarnya tantangan dalam langkah perubahan yang dilakukannya. Belum lagi perlu tenaga besar untuk mengikis budaya nyaman (comfort zone) yang biasa membelenggu gerakan perubahan. Tak dapat dihindari ia juga merupakan lembaga plat merah yang juga tak luput mengalami pergulatan internal yang hebat.

Bukan perkara mudah untuk membangun budaya baru yang sesuai perubahan jaman dan dapat beruntung keluar dari cengkeraman budaya-budaya nyaman. Sudah pasti ini bakal menjadi sebuah pertarungan yang panjang.

Gaung Perubahan

Sejatinya, hembusan pembenahan semakin dikuatkan pada tahun 2009, ketika United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia. DIKPORA DIY menyambut baik penetapan ini. Ini bisa menjadi trigger penguat langkah perubahan yang telah dilakukannya.

Ia yakin, Yogyakarta dengan ekosistem budaya dan keunikan batik yang dimiliki, bisa menjadi kota batik. Ia mulai melakukan gerakan perubahan, dengan mencanangkan bahwa batik harus menjadi muatan lokal sekolah yang ada di wilayah Jogja.

Langkah yang diambilnya bisa dikatakan sederhana, Ia menyiapkan dan mengundang guru dari berbagai sekolah di Yogyakarta untuk diberikan pelatihan dan pengetahuan mengenai batik. Nantinya guru ini digadang akan menjadi guru batik di sekolah tempatnya mengabdi. Langkah lain, Ia mewajibkan seluruh pegawainya menggunakan batik di hari Jum’at dan Sabtu. Sedangkan setiap hari Jum'at saja untuk pengajar dan siswa setiap sekolah di Jogja.

Benar saja. Langkah ini memberikan impact yang signifikan. Setahun kemudian, banyak sekolah yang telah menggunakan batik buatannya sendiri pada hari Jumat. Tak hanya itu, beberapa sekolah bahkan berani menyelenggarakan fashion show batik hasil karya pengajar dan siswanya sendiri.

Bola salju perubahan semakin membesar. Ditahun yang sama, DIKPORA DIY menggerakkan sekolah peduli terhadap lingkungan. Gerakannya disebut sekolah hijau, dan diperkuat dengan kerjasama dengan salah satu universitas terbaik di Yogyakarta, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Tujuan dari gerakan ini adalah agar siswa dan juga pengajar memiliki karakter peduli terhadap pelestarian lingkungan dan bagaimana mewujudkannya mulai dari diri sendiri.

Langkah lain yang juga cukup signifikan dirasakan masyarakat adalah gerakan Jogja Belajar (JB), melalui aplikasi ini DIKPORA DIY menyediakan konten pembelajaran online, berupa text, video, atau media lain yang dapat diakses free, darimanapun. Langkah ini merupakan dukungan untuk menjadikan Jogja Smart Province.

Ancang-ancang Melompat Kurva Kedua

Dalam teori perubahan, saat yang tepat untuk melakukan perubahan adalah saat mengalami kejayaan. Ketika suatu perusahaan sudah mendekati titik puncak pada kurva pertama, yang biasanya ditandai dengan pencapaian-pencapaian yang dimiliki, maka sudah saatnya ia menyiapkan energi untuk melompat ke kurva kedua.

Kini bisa jadi DIKPORA DIY pantas mendapat perhatian dari masyarakat secara lebih luas. Berbagai capaian-capaian hasil kerja keras dan komitmen mulai terlihat satu demi satu.

Melalui gerakan batik, tahun 2014, DIKPORA DIY berhasil mewujudkan Yogyakarta ditetapkan sebagai “The World Craft City of Batik” oleh World Craft Council, lembaga non profit yang mendukung pengembangan ekonomi melalui kerajinan.

Tahun 2018 lalu, JB lebih dikembangkan dan dikuatkan lagi bersama Google Indonesia, untuk mendukung misi Jogja sebagai pusat pendidikian dan berkelas dunia 2025.

Komunitas yang Ia bina, juga mulai unjuk gigi. Sebut saja komunitas robotika, yang baru-baru ini menggelar kompetisi ketangkasan pilot drone. Capaian ini diikuti dengan capaian-capain lain yang terus bermunculan.

Dan kini melalui aplikasi sederhana berupa IKM, sejatinya DIKPORA DIY berupaya memetakan sejauh mana perubahan budaya korporat yang telah dilakukannya. Menyiapkan energi, untuk melompat ke kurva kedua. Ia paham betul, kegagalan dalam melompat ke kurva kedua, hanya akan membawanya ke dalam jurang vicious cycle.

picture Semoga DIKPORA DIY berhasil menggerakkan perubahan dan mampu melompat ke kurva kedua.