by Tim Ansvia - Sat 10:40:25 Oct 12 2019

picture Minggu lalu, pakar manajemen dan Guru Besar UI, Rhenald Kasali meluncurkan buku terbaru dari serial buku disrupsi yang ia mulai kenalkan pertama kali pada bulan Juli tahun lalu. Buku ini dilabelinya #MO, tagar MO.

Sejatinya beberapa minggu sebelum launching buku tersebut, saya dikiriminya potongan film yang sudah dilabeli #MO. Saya agak mengerutkan kening ketika membaca nama dari file film tersebut, pasalnya nama file film tersebut adalah "Agar Anda tidak Gagal Paham." Terlepas dari itu, saya segera membuka file tersebut.

Di dalam potongan film tersebut terdapat beberapa adegan yang cukup lucu. Mirip dengan adegan yang biasa diperankan oleh aktor-aktor pada acara "Just for Laugh" yang jika Anda suka bepergian dengan pesawat udara sering Anda nikmati selama duduk dalam pesawat menuju bandara kota tujuan Anda.

Salah satu adegan menampilkan suasana sebuah restoran. Di sana ada pasangan pria dan wanita duduk saling berhadapan, dan ada meja panjang di antara keduanya. Di meja tersebut telah tersaji beberapa menu makanan. Dan makanan yang paling menarik perhatian adalah ayam panggang.

Selain besar, ayam panggang ini disajikan secara utuh, tidak dipotong-potong layaknya penyajian ayam panggang di Indonesia.

Hal menarik terjadi ketika sang pria akan mencoba mengiris ayam panggang tersebut. Sesaat pisau dan garpu yang dipegangnya akan menyentuh ayam panggang tersebut, secara tiba-tiba ayam panggang tersebut bergerak-gerak. Sontak ia dan pasangannya yang duduk didepannya terkejut, berdiri dari tempat duduknya. Bahkan si wanita sempat berteriak keras. Namun tak lama kemudian ia mulai sensing dan menyadari apa yang terjadi. Ia kemudian mulai tersenyum dan menertawakan dirinya sendiri.

Jangan #GagalPaham

Sebagian orang ada yang merespon hal baru dengan cepat. Hanya sesaat setelah keterkejutannya, ia mulai memahami apa yang terjadi. Namun yang sebagian lainnya menanggapi dengan cara berbeda. Ia seolah hanya percaya dengan apa yang bisa dilihat oleh matanya saja, ia merespon dengan berteriak keras, bergerak menjauh, dan bahkan berusaha meyakinkan orang lain akan apa yang dilihatnya.

Padahal ada teknologi yang membuat ayam panggang itu dapat bergerak sendiri. Oleh Rhenald, ketika pertama kali suatu teknologi dikenalkan, orang dapat memberikan dua jenis reaksi. Yang pertama adalah terkejut natural dan yang kedua disebutnya #GagalPaham.

Terkejut natural biasanya hanya berlangsung sejenak, ia mungkin kaget dan berhenti beberapa saat, namun kemudian segera menyesuaikan diri. Sedangkan #GagalPaham, tidak dapat memahami apa yang terjadi dan kekeuh menolak hal baru yang tak sesuai dengan kebiasaan. Orang yang #GagalPaham, disebutnya terkejutnya kelamaan.

Super apps, Kolaborasi #MO

Teknologi berevolusi dan bergerak ke arah super apps, mendahului produk dan jasa yang juga menuju kesana. Pergerakan ini dapat menyebabkan gangguan-gangguan yang biasa disebut disrupsi. Di dunia bisnis, tak tanggung-tanggung disrupsi dapat menggerogoti atau bahkan menggeser pemimpin pasar.

Mereka mengubah model bisnis. Mereka menawarkan service atau produk yang tak hanya pas dan sesuai dengan kebutuhan, namun juga dengan harga yang sangat kompetitif.

Sebagian besar para eksekutif perusahaan sepakat dan mengakui bahwa risk disrupsi terhadap pasar sangat tinggi. Bahkan dari suatu lembaga survei, menyebutkan bahwa hampir 51% eksekutif menyebutkan hadirnya super apps beresiko sangat tinggi terhadap pasar dan profit yang didapatkannya.

Pemimpin pasar akan terus mengalami tekanan, tak hanya oleh musuh lama, namun juga terdisrupsi oleh hadirnya pemain baru. Bagi pemimpin pasar yang #GagalPaham, tak kan menunggu lama sampai ia terganti oleh pemain baru.

Super app memiliki ciri mampu menggabungkan kemampuan memobilisasi dan mengorkestrasi suatu produk atau jasa yang dimilikinya. Pergerakannya tak hanya dapat membuat orang terkejut, ia bahkan menciptakan kehidupan baru.

Lihat smartphone yang Anda miliki, ia merupakan penyatuan dari berbagai komponen yang terorkestrasi dengan apik. Penyatuan dari beberapa kebutuhan, kamera digital, baterai litium, telekomunikasi, dompet virtual, dan hiburan yang awalnya berdiri sendiri.

Software Developer Dilarang #GagalPaham

Di dunia software developer, disrupsi terjadi lebih dahulu. Bukan saja karena pemain terbesar disrupsi adalah dari kalangan pelaku teknologi, namun juga karena pesatnya perkembangan dari teknologi itu sendiri.

Coba kunjungi Figma, InVison, Balsamix, Atomix, Adobe XD atau aplikasi kolaborasi desain atau pembuatan prototyping. Banyak fitur yang memungkinkan berkolaborasi berbasis cloud yang ditawarkan secara cuma-cuma. Anda hanya harus membayar ketika memerlukan fitur lain yang dikategorikan advance. Kehadiran aplikasi sejenis ini juga diprediksikan akan "memaksa" programmer frontend berpikir dua kali jika ingin tetap tinggal di zona nyaman, #GagalPaham. Karena melalui fiturnya, selain menyajikan tampilan, aplikasi ini juga menghasilkan baris kode style sheet-nya. Sehingga pengguna tinggal copy paste kode tersebut ke kode program miliknya ketika ingin mengaplikasikan.

Contoh lain adalah Flutter, software-development kit yang mulai dikenalkan Google pada Mei 2017. Software ini memangkas total waktu pembuatan suatu aplikasi untuk iOS dan Android. Teknologinya memungkinkan developer cukup hanya membuat satu kode program untuk dapat menghasilkan dua aplikasi sekaligus, iOS dan Android.

Jika bisnis terjadi fenomena dari owning economy ke sharing economy, access ke #MO, maka di lingkungan software developer juga terjadi pergerakan yaitu dari product-based ke platform.

Bukan sekedar aplikasi saja yang kita tawarkan, namun sebuah platform yang bisa memobilisasi dan mengorkestrasi suatu aplikasi menjadi lebih optimal dan memiliki added value. Meminjam tulisan Fajar S Pramono, bankir yang lebih senang dipanggil sebagai penulis, “disinilah optimisme masih bisa kita bentangkan."

picture Minggu lalu, pakar manajemen dan Guru Besar UI, Rhenald Kasali meluncurkan buku terbaru dari serial buku disrupsi yang ia mulai kenalkan pertama kali pada bulan Juli tahun lalu. Buku ini dilabelinya #MO, tagar MO.

Sejatinya beberapa minggu sebelum launching buku tersebut, saya dikiriminya potongan film yang sudah dilabeli #MO. Saya agak mengerutkan kening ketika membaca nama dari file film tersebut, pasalnya nama file film tersebut adalah "Agar Anda tidak Gagal Paham." Terlepas dari itu, saya segera membuka file tersebut.

Di dalam potongan film tersebut terdapat beberapa adegan yang cukup lucu. Mirip dengan adegan yang biasa diperankan oleh aktor-aktor pada acara "Just for Laugh" yang jika Anda suka bepergian dengan pesawat udara sering Anda nikmati selama duduk dalam pesawat menuju bandara kota tujuan Anda.

Salah satu adegan menampilkan suasana sebuah restoran. Di sana ada pasangan pria dan wanita duduk saling berhadapan, dan ada meja panjang di antara keduanya. Di meja tersebut telah tersaji beberapa menu makanan. Dan makanan yang paling menarik perhatian adalah ayam panggang.

Selain besar, ayam panggang ini disajikan secara utuh, tidak dipotong-potong layaknya penyajian ayam panggang di Indonesia.

Hal menarik terjadi ketika sang pria akan mencoba mengiris ayam panggang tersebut. Sesaat pisau dan garpu yang dipegangnya akan menyentuh ayam panggang tersebut, secara tiba-tiba ayam panggang tersebut bergerak-gerak. Sontak ia dan pasangannya yang duduk didepannya terkejut, berdiri dari tempat duduknya. Bahkan si wanita sempat berteriak keras. Namun tak lama kemudian ia mulai sensing dan menyadari apa yang terjadi. Ia kemudian mulai tersenyum dan menertawakan dirinya sendiri.

Jangan #GagalPaham

Sebagian orang ada yang merespon hal baru dengan cepat. Hanya sesaat setelah keterkejutannya, ia mulai memahami apa yang terjadi. Namun yang sebagian lainnya menanggapi dengan cara berbeda. Ia seolah hanya percaya dengan apa yang bisa dilihat oleh matanya saja, ia merespon dengan berteriak keras, bergerak menjauh, dan bahkan berusaha meyakinkan orang lain akan apa yang dilihatnya.

Padahal ada teknologi yang membuat ayam panggang itu dapat bergerak sendiri. Oleh Rhenald, ketika pertama kali suatu teknologi dikenalkan, orang dapat memberikan dua jenis reaksi. Yang pertama adalah terkejut natural dan yang kedua disebutnya #GagalPaham.

Terkejut natural biasanya hanya berlangsung sejenak, ia mungkin kaget dan berhenti beberapa saat, namun kemudian segera menyesuaikan diri. Sedangkan #GagalPaham, tidak dapat memahami apa yang terjadi dan kekeuh menolak hal baru yang tak sesuai dengan kebiasaan. Orang yang #GagalPaham, disebutnya terkejutnya kelamaan.

Super apps, Kolaborasi #MO

Teknologi berevolusi dan bergerak ke arah super apps, mendahului produk dan jasa yang juga menuju kesana. Pergerakan ini dapat menyebabkan gangguan-gangguan yang biasa disebut disrupsi. Di dunia bisnis, tak tanggung-tanggung disrupsi dapat menggerogoti atau bahkan menggeser pemimpin pasar.

Mereka mengubah model bisnis. Mereka menawarkan service atau produk yang tak hanya pas dan sesuai dengan kebutuhan, namun juga dengan harga yang sangat kompetitif.

Sebagian besar para eksekutif perusahaan sepakat dan mengakui bahwa risk disrupsi terhadap pasar sangat tinggi. Bahkan dari suatu lembaga survei, menyebutkan bahwa hampir 51% eksekutif menyebutkan hadirnya super apps beresiko sangat tinggi terhadap pasar dan profit yang didapatkannya.

Pemimpin pasar akan terus mengalami tekanan, tak hanya oleh musuh lama, namun juga terdisrupsi oleh hadirnya pemain baru. Bagi pemimpin pasar yang #GagalPaham, tak kan menunggu lama sampai ia terganti oleh pemain baru.

Super app memiliki ciri mampu menggabungkan kemampuan memobilisasi dan mengorkestrasi suatu produk atau jasa yang dimilikinya. Pergerakannya tak hanya dapat membuat orang terkejut, ia bahkan menciptakan kehidupan baru.

Lihat smartphone yang Anda miliki, ia merupakan penyatuan dari berbagai komponen yang terorkestrasi dengan apik. Penyatuan dari beberapa kebutuhan, kamera digital, baterai litium, telekomunikasi, dompet virtual, dan hiburan yang awalnya berdiri sendiri.

Software Developer Dilarang #GagalPaham

Di dunia software developer, disrupsi terjadi lebih dahulu. Bukan saja karena pemain terbesar disrupsi adalah dari kalangan pelaku teknologi, namun juga karena pesatnya perkembangan dari teknologi itu sendiri.

Coba kunjungi Figma, InVison, Balsamix, Atomix, Adobe XD atau aplikasi kolaborasi desain atau pembuatan prototyping. Banyak fitur yang memungkinkan berkolaborasi berbasis cloud yang ditawarkan secara cuma-cuma. Anda hanya harus membayar ketika memerlukan fitur lain yang dikategorikan advance. Kehadiran aplikasi sejenis ini juga diprediksikan akan "memaksa" programmer frontend berpikir dua kali jika ingin tetap tinggal di zona nyaman, #GagalPaham. Karena melalui fiturnya, selain menyajikan tampilan, aplikasi ini juga menghasilkan baris kode style sheet-nya. Sehingga pengguna tinggal copy paste kode tersebut ke kode program miliknya ketika ingin mengaplikasikan.

Contoh lain adalah Flutter, software-development kit yang mulai dikenalkan Google pada Mei 2017. Software ini memangkas total waktu pembuatan suatu aplikasi untuk iOS dan Android. Teknologinya memungkinkan developer cukup hanya membuat satu kode program untuk dapat menghasilkan dua aplikasi sekaligus, iOS dan Android.

Jika bisnis terjadi fenomena dari owning economy ke sharing economy, access ke #MO, maka di lingkungan software developer juga terjadi pergerakan yaitu dari product-based ke platform.

Bukan sekedar aplikasi saja yang kita tawarkan, namun sebuah platform yang bisa memobilisasi dan mengorkestrasi suatu aplikasi menjadi lebih optimal dan memiliki added value. Meminjam tulisan Fajar S Pramono, bankir yang lebih senang dipanggil sebagai penulis, “disinilah optimisme masih bisa kita bentangkan."