by Tim Ansvia - Sat 05:53:22 Sep 14 2019

“Kamu pakai apa? iOS atau Android?” “iOS” “ Wah Mantap”

“Yuk foto, mana nih yang ponselnya iPhone!”

“Iyalah hasilnya bagus, foto pakai iPhone”

“Mangkanya pakai iPhone, biar yang like banyak!”

Kalimat-kalimat ini pernah begitu familiar terdengar di telinga. Dulu, untuk urusan hasil foto smartphone, iPhone memang favorit. Hasil fotonya jernih dan paling tajam dijamannya. iPhone seperti mampu memberikan gambar yang sesuai harapan. "Apapun dan bagaimanapun object yang difoto, hasil foto akan terlihat jauh lebih indah dari aslinya."

Sangat klop dengan kegemaran generasi milenial mengaitkan kehidupannya dengan eksistensi di dunia maya. Kehadiran media sosial juga menggeser perilaku dan memicu sindrom “ketenaran”, keinginan untuk dikenal dan menjadi bahan perbincangan banyak orang. Momen sehari-hari buru-buru di-share ke follower-nya. Tak cukup hanya foto, postingan seringkali disertai dengan caption yang berlebihan -jika tidak ingin disebut alay- untuk menarik respon dan komentar pengunjung-pengunjungnya.

picture

Ukuran ke-valid-an respon juga telah bergeser. Respon real dari orang terdekat di sekitarnya akan diadu dengan jumlah "Like" yang didapatkan ketika foto tersebut di-upload di-account media sosialnya. Dan jujur saja secara legitimasi: respon real kalah dengan jumlah “Like” yang didapatkan. Ini berarti, jika respon real tak sesuai dengan jumlah "Like" yang didapatkan, maka yang dianggap valid adalah respon jumlah "Like". Lumrah, media sosial dan smartphone menjadi satu kesatuan yang sempurna.

Dulu, sekali lagi dulu, jenis smartphone yang digunakan dapat diprediksi dari kualias foto yang di-share dalam suatu postingan. Dan waktu itu, iPhone menjadi salah satu brand yang dianggap memberikan kualitas gambar terbaik juga mampu mendongkrak ukuran kesuksesan finansial dan gaya hidup pemiliknya. Entah.

Disrupsi

picture

Jika urusan kamera, iPhone memang bukan yang pertama. Ada Sharp dan Samsung yang menginisiasi penyematannya di smartphone. Namun kedatangan iPhone, mendisrupsi kenyamanan produsen smartphone kala itu karena menghadirkan fitur-fitur yang revolusioner.

Di tangan Steve Job, kehadiran iPhone mengubah lanskap bisnis smartphone saat itu. iPhone tak mau masuk kepasar dengan berperang head to head dengan Palm, Blackberry dan Windows Phone, 3 besar incumbent saat itu.

Ia menjadi game changers, tak hanya menawarkan layanan dasar yang dibutuhkan saat itu, yaitu: voice, sms, dan PDA, iPhone memberikan: virtual keyboard, glass screen, Youtube client, music player, internet browser, multi-touch, dan accelerometer (iPhone menjadi pioneer smartphone dengan dukungan tampilan portrait dan lanscape). Dan saat itu, iPhone menjadi satu-satunya smartphone yang tidak di-bundling dengan vendor telekomunikasi.

Saat itu, incumbent kelabakan menghadapi disrupsi iPhone. Inovasi yang ditawarkan iPhone mengubah industri smartphone.

Pendistrupsi yang terdisrupsi

Beberapa tahun berjalan, iPhone semakin menjadi terdepan dalam teknologi smartphone. Salah satu indikator yang terlihat adalah setiap ada jadwal launching versi baru, iPhone selalu sold-out. Orang bahkan rela antri dan indent hanya untuk menjadi yang pertama merasakan experience penggunaan versi terbarunya. Mereka meyakini dalam setiap peluncuran produk baru, iPhone selalu memberikan inovasi baru.

picture

Kemudian datang disruptor baru, Android. Dari sisi umur, mungkin Android seumuran dengan iPhone, namun jika dilihat dari dukungan, maka Android jauh lemiliki dukungan yang lebih luas. Android dikembangkan oleh Google, dan di-open source-kan.

Munculnya Android seolah membuat iPhone terengah-engah. Inovasi yang dulu dibanggakannya sekarang sudah menjadi layanan lumrah yang disematkan pada hampir setiap perangkat smartphone. Tawaran berupa tambahan lebar layar, kualitas kamera, hingga ekslusifitas, tak bisa mempertebal loyalitas penggunanya.

Dikabarkan, loyalitas penggunanya menurun dari tahun ke tahun tergerus Android. Bahkan, kabarnya Android menggerus hingga 80% pasar smartphone.

Legenda Inovasi, yang Minim Inovasi

picture

Baru-baru ini, Apple resmi meluncurkan iPhone 11 seri iPhone terbaru dengan spesifikasi tiga buah kamera. iPhone menyematkan tiga kamera belakang yang tersusun secara zig-zag di dalam bingkai persegi. Desain tiga kamera yang anti mainstream ini mungkin memang menjadi yang pertama di pasaran.

Tak ayal, desain tersebut menuai kontroversi dari banyak orang. Selain tampak aneh, susunan kamera iPhone 11 Pro ini dilaporkan membuat sebagian orang bergidik karena memicu trypophobia.

>>Jenis fobia ini timbul ketika melihat lubang-lubang kecil yang menggerombol, misalnya seperti sarang lebah atau biji lotus (seroja). Orang dengan fobia ini akan langsung bergidik, geli, gatal, hingga merasa mual dan muntah apabila melihat lubang-lubang tersebut lebih dekat.

Bukan hal baru memang, kehadiran teknologi tiga kamera telah dikenalkan terlebih dahulu oleh Huawei, melalui flagship P20 dan P20 Pro yang diluncurkan awal tahun ini. Bahkan, startup HMD tak tanggung-tanggung, menanamkan lima kamera di Nokia 9 PureView.

Namun oleh Apple, penyematan tiga kamera pada iPhone digadang akan mendukung fungsi fitur Deep Fusion. Fitur ini memungkinkan pengguna iPhone dapat mengambil sembilan foto dalam satu kali potret (tiga potret per kamera) dan akan digabung menjadi satu kesatuan foto berkualitas tinggi. Selain itu, iPhone katanya juga dilengkapi dengan aplikasi Filmic Pro yang mampu membuat pengguna merekam objek dengan multi kamera dalam satu kesempatan, misalnya pengambilan foto pada cahaya minim atau slow swafoto.

Entah apakah fitur itu bisa menjadi pelepas dahaga inovasi atas produk iPhonenya. Mari kita tunggu seberapa besar jumlah "Like" yang diterima di ruang publik milikinya.

“Kamu pakai apa? iOS atau Android?” “iOS” “ Wah Mantap”

“Yuk foto, mana nih yang ponselnya iPhone!”

“Iyalah hasilnya bagus, foto pakai iPhone”

“Mangkanya pakai iPhone, biar yang like banyak!”

Kalimat-kalimat ini pernah begitu familiar terdengar di telinga. Dulu, untuk urusan hasil foto smartphone, iPhone memang favorit. Hasil fotonya jernih dan paling tajam dijamannya. iPhone seperti mampu memberikan gambar yang sesuai harapan. "Apapun dan bagaimanapun object yang difoto, hasil foto akan terlihat jauh lebih indah dari aslinya."

Sangat klop dengan kegemaran generasi milenial mengaitkan kehidupannya dengan eksistensi di dunia maya. Kehadiran media sosial juga menggeser perilaku dan memicu sindrom “ketenaran”, keinginan untuk dikenal dan menjadi bahan perbincangan banyak orang. Momen sehari-hari buru-buru di-share ke follower-nya. Tak cukup hanya foto, postingan seringkali disertai dengan caption yang berlebihan -jika tidak ingin disebut alay- untuk menarik respon dan komentar pengunjung-pengunjungnya.

picture

Ukuran ke-valid-an respon juga telah bergeser. Respon real dari orang terdekat di sekitarnya akan diadu dengan jumlah "Like" yang didapatkan ketika foto tersebut di-upload di-account media sosialnya. Dan jujur saja secara legitimasi: respon real kalah dengan jumlah “Like” yang didapatkan. Ini berarti, jika respon real tak sesuai dengan jumlah "Like" yang didapatkan, maka yang dianggap valid adalah respon jumlah "Like". Lumrah, media sosial dan smartphone menjadi satu kesatuan yang sempurna.

Dulu, sekali lagi dulu, jenis smartphone yang digunakan dapat diprediksi dari kualias foto yang di-share dalam suatu postingan. Dan waktu itu, iPhone menjadi salah satu brand yang dianggap memberikan kualitas gambar terbaik juga mampu mendongkrak ukuran kesuksesan finansial dan gaya hidup pemiliknya. Entah.

Disrupsi

picture

Jika urusan kamera, iPhone memang bukan yang pertama. Ada Sharp dan Samsung yang menginisiasi penyematannya di smartphone. Namun kedatangan iPhone, mendisrupsi kenyamanan produsen smartphone kala itu karena menghadirkan fitur-fitur yang revolusioner.

Di tangan Steve Job, kehadiran iPhone mengubah lanskap bisnis smartphone saat itu. iPhone tak mau masuk kepasar dengan berperang head to head dengan Palm, Blackberry dan Windows Phone, 3 besar incumbent saat itu.

Ia menjadi game changers, tak hanya menawarkan layanan dasar yang dibutuhkan saat itu, yaitu: voice, sms, dan PDA, iPhone memberikan: virtual keyboard, glass screen, Youtube client, music player, internet browser, multi-touch, dan accelerometer (iPhone menjadi pioneer smartphone dengan dukungan tampilan portrait dan lanscape). Dan saat itu, iPhone menjadi satu-satunya smartphone yang tidak di-bundling dengan vendor telekomunikasi.

Saat itu, incumbent kelabakan menghadapi disrupsi iPhone. Inovasi yang ditawarkan iPhone mengubah industri smartphone.

Pendistrupsi yang terdisrupsi

Beberapa tahun berjalan, iPhone semakin menjadi terdepan dalam teknologi smartphone. Salah satu indikator yang terlihat adalah setiap ada jadwal launching versi baru, iPhone selalu sold-out. Orang bahkan rela antri dan indent hanya untuk menjadi yang pertama merasakan experience penggunaan versi terbarunya. Mereka meyakini dalam setiap peluncuran produk baru, iPhone selalu memberikan inovasi baru.

picture

Kemudian datang disruptor baru, Android. Dari sisi umur, mungkin Android seumuran dengan iPhone, namun jika dilihat dari dukungan, maka Android jauh lemiliki dukungan yang lebih luas. Android dikembangkan oleh Google, dan di-open source-kan.

Munculnya Android seolah membuat iPhone terengah-engah. Inovasi yang dulu dibanggakannya sekarang sudah menjadi layanan lumrah yang disematkan pada hampir setiap perangkat smartphone. Tawaran berupa tambahan lebar layar, kualitas kamera, hingga ekslusifitas, tak bisa mempertebal loyalitas penggunanya.

Dikabarkan, loyalitas penggunanya menurun dari tahun ke tahun tergerus Android. Bahkan, kabarnya Android menggerus hingga 80% pasar smartphone.

Legenda Inovasi, yang Minim Inovasi

picture

Baru-baru ini, Apple resmi meluncurkan iPhone 11 seri iPhone terbaru dengan spesifikasi tiga buah kamera. iPhone menyematkan tiga kamera belakang yang tersusun secara zig-zag di dalam bingkai persegi. Desain tiga kamera yang anti mainstream ini mungkin memang menjadi yang pertama di pasaran.

Tak ayal, desain tersebut menuai kontroversi dari banyak orang. Selain tampak aneh, susunan kamera iPhone 11 Pro ini dilaporkan membuat sebagian orang bergidik karena memicu trypophobia.

>>Jenis fobia ini timbul ketika melihat lubang-lubang kecil yang menggerombol, misalnya seperti sarang lebah atau biji lotus (seroja). Orang dengan fobia ini akan langsung bergidik, geli, gatal, hingga merasa mual dan muntah apabila melihat lubang-lubang tersebut lebih dekat.

Bukan hal baru memang, kehadiran teknologi tiga kamera telah dikenalkan terlebih dahulu oleh Huawei, melalui flagship P20 dan P20 Pro yang diluncurkan awal tahun ini. Bahkan, startup HMD tak tanggung-tanggung, menanamkan lima kamera di Nokia 9 PureView.

Namun oleh Apple, penyematan tiga kamera pada iPhone digadang akan mendukung fungsi fitur Deep Fusion. Fitur ini memungkinkan pengguna iPhone dapat mengambil sembilan foto dalam satu kali potret (tiga potret per kamera) dan akan digabung menjadi satu kesatuan foto berkualitas tinggi. Selain itu, iPhone katanya juga dilengkapi dengan aplikasi Filmic Pro yang mampu membuat pengguna merekam objek dengan multi kamera dalam satu kesempatan, misalnya pengambilan foto pada cahaya minim atau slow swafoto.

Entah apakah fitur itu bisa menjadi pelepas dahaga inovasi atas produk iPhonenya. Mari kita tunggu seberapa besar jumlah "Like" yang diterima di ruang publik milikinya.