by Tim Ansvia - Thu 07:38:25 Jul 18 2019

"Bea cukai Riau adakan lelang tertutup dengan harga murah", "Setelah wacanakan menghapus pelajaran agama disekolah, kini terang-terangan melarang busana muslim di sekolah", dan terakhir "Audrey Yu pernah bekerja di NASA dan bertemu Jokowi di KTT G20". Berbagai informasi tersebar tanpa mengandung kebenaran yang valid. Lebih menyeramkannya lagi, ada beberapa informasi yang diyakinkan dengan beberapa dukungan gambar. Beberapa kali terakhir, dunia digital dihebohkan dengan unggahan yang berupa gambar seorang pegawai berseragam sedang memeriksa daging cincang yang tampak seperti jenazah manusia dan dilengkapi dengan kalimat "Hati-hati daging manusia impor dari China". Isu-isu sejenis ini kerap kali memenuhi wall atau timeline account media sosial hampir kita semua.

Mungkin isu itu terdengar ringan bagi sebagian orang, namun tidak bagi sebagian yang lainnya, bahkan bisa jadi memberikan dampak yang begitu mengerikan. Misalnya saja untuk isu terakhir yang disebutkan di atas, bagi pengguna yang meyakini kebenaran hal tersebut maka ia akan menceritakan dan mencoba meyakinkan orang-orang disekitarnya mengenai kebenaran isu tersebut.

Bisa jadi, orang-orang di sekitarnya juga akan menyebarkan isu tersebut ke lebih banyak orang, kemudian isu tersebut akan meluas dan semakin melebar. Rantai komunikasi isu semakin panjang dan panjang, begitu seterusnya. Pada akhirnya, isu akan semakin membesar dan menyebar bahkan dari mulut ke mulut.

Celakanya penyebaran isu tersebut tanpa disertai dengan pengetahuan yang benar mengenai status kebenaran isi beritanya. Dalam isu terakhir yang disampaikan di atas, penyebaran isu ini akan memberikan opini yang bisa jadi mendiskreditkan sebuah negara. Dan bagaimana jika negara yang terkait dalam isu tersebut ikut bicara? Masih terpampang segar dalam ingatan kita hanya karena hoax isu nuklir, hubungan Pakistan - Israel memanas di beberapa tahun yang lalu.

Dari contoh kasus ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi memiliki sisi negatif yang membahayakan. Apalagi andilnya sebagai media penyebaran berita bohong atau hoax.

Deteksi Hoax dengan Teknologi? Nggak cukup bro!

Virus dan antivirus, itulah istilah yang tepat bagi hoax dan deteksi hoax. Hoax mulai merajalela ketika informasi dengan mudah kita dapatkan melalui hasil perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Teknologi selalu membawa kabar baik dan buruk, salah satu kabar terburuk yang tidak bisa kita hindari adalah kelahiran hoax. Mau tidak mau, suka tidak suka, hoax akan segera menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kemunculan virus tentu harus diikuti dengan kemunculan antivirus. Begitu juga dengan hoax. Kemunculannya membawa beberapa pemikiran mengenai teknologi yang memberikan solusi identifikasi informasi hoax. Pada teknologi deteksi hoax kita akan mampu untuk mengetahui apakah informasi yang kita dapatkan merupakan informasi yang benar atau salah. Informasi yang beredar akan dapat diidentifikasi pada pada aplikasi yang didukung dengan teknologi deteksi hoax.

Sejatinya, semenjak hoax muncul, sudah banyak beredar aplikasi yang mencoba mengindentifikasikannya. Namun aplikasi yang bermunculan itu dianggap tidak mudah digunakan. Beberapa diantaranya hanya dapat digunakan melalui web, sehingga pengguna harus membuka browser pada laptop, tablet, atau smartphone tersendiri. Ada juga aplikasi yang hanya bisa mengindentifikasi informasi berupa teks atau gambar saja, tidak dapat memeriksa keduanya.

Yang kurang diikutsertakan dalam aplikasi pendeteksi hoax adalah keterlibatan orang atau masyarakat. Di hampir setiap negara, sebagian masyarakatnya, cenderung tidak memperhatikan kredibilitas sumber beritanya ketika ia menerima atau menyebarkan suatu berita. Sehingga, seringkali sumber berita yang tidak memiliki kaidah jurnalistik yang jelas, malah dianggap valid dan dijadikan sebagai sumber dari berita yang disebarkannya. New York Times menyebut hal ini sebagai "virus digital", yaitu berita-berita bohong yang kerap kali dibumbui dengan judul yang bombastis dan menarik perhatian.

Peran Masyarakat Mendeteksi Hoax

Hoax adalah musuh kita bersama. Sudah sewajarnya jika kita bersama-sama bertekad menghadapinya. Keterlibatan dan peran kita dalam memerangi hoax bisa jadi menjadi kekuatan yang signifikan dalam memenangkan perang ini. Lalu bagaimana menyalurkan peran ini? Pernah mendengar Detax?

picture

Detax merupakan singkatan dari “Deteksi Hoax”. Sebuah program pendeteksi hoax yang diklaim mampu mengakomodasi peran setiap orang dan sangat mudah digunakan. Hal ini cukup beralasan karena Detax mampu berintegrasi dengan berbagai aplikasi media sosial dan web browser populer. Baik pengguna maupun pelapor hoax (kontributor) dapat berperan langsung melalui berbagai platform, seperti: iOS, Android, juga web browser yang dimilikinya.

Kemudahan inilah yang diharapkan oleh Detax, dapat menjadi penarik kepedulian masyarakat dalam memerangi hoax secara bersama-sama. Detax ingin menjadi wadah partisipasi masyarakat dalam mencegah potensi hoax pada suatu informasi dan memotong rantai penyebarannya sejak dini. Sehingga tak berlebihan jika ia kemudian bermimpi untuk mewujudkan internet yang sehat, bebas dari hoax. Walaupun tak dapat dikatakan bebas dari hoax, setidaknya pengetahuan terhadap kebenaran suatu berita dapat teridentifikasi lebih cepat.

Mampukah Teknologi dan Manusia Bersinergi?

Teknologi, jika dipadukan dengan peran aktif manusia tentu akan menjadi kekuatan yang luar biasa dalam mencegah penyebaran hoax. Detax didesain sedemikian rupa sehingga memadukan peran teknologi dan peran manusia sebagai senjata andalan memerangi hoax.

Detax menggunakan algoritma yang mirip dengan algoritma antivirus, yakni berbasis signature dan berbasis heuristic. Algoritma signature mendeteksi suatu konten berdasarkan data yang ada di dalam database. Algoritma heuristic memungkinkan Detax mengenali konten-konten baru yang belum terdapat di dalam signature database.

Pengklasifikasian konten didasarkan pada definisi hoax dan heuristik algoritma AI. Hoax didefinisikan seperti virus atau malware dalam dunia antivirus. Ketika Detax melakukan scanning, definisi hoax dapat terus diperbaharui secara berkala setiap ditemukan issue baru, sehingga Detax dapat semakin akurat dalam mendeteksi hoax.

Untuk itu, Detax juga membutuhkan kontribusi dari pengguna untuk memperkaya data dengan cara melaporkan konten-konten melalui web atau aplikasi Detax. Bagi para developer, tersedia API yang memudahkan penggunaan layanan Detax.

Detax, Pendeteksi hoax yang Mudah dan Mumpuni

picture

Kehadiran Detax menjadi angin segar dalam upaya menekan penyebaran hoax di media sosial. Kemampuan Detax yang dapat dengan akurat mengidentifikasi dini suatu konten dengan mudah, memungkinkan kita untuk me-report konten, baik sebagai hoax atau fakta kelak dikemudian hari.

Kehadiran Detax mengusung kemudahan akses, selain dapat digunakan dengan cara menginstal aplikasinya melalui Play Store atau Apple Store, Detax juga dapat diakses melalui web browser. Pengguna dapat melakukan content scanning pada berbagai media hanya dengan klik kanan kemudian klik menu "Scan with Detax". Sedemikian mudahnya.

Kita patut berbangga dengan kemudahan akses dan teknologi yang ditawarkan oleh Detax. Bahkan dengan teknologi AI, Detax dapat berperan sebagai telegram bot. Impaknya pengguna dapat dengan mudah meneruskan beragam pesan yang ingin kita scan secara langsung ke telegram bot tersebut. Dan, simsalabim, Detax bot akan langsung merespons dengan hasil scan, apakah konten yang kita kirim tersebut merupakan konten hoax atau bukan.

Kesehatan konten internet dan media sosial sepertinya bukan mimpi lagi!

"Bea cukai Riau adakan lelang tertutup dengan harga murah", "Setelah wacanakan menghapus pelajaran agama disekolah, kini terang-terangan melarang busana muslim di sekolah", dan terakhir "Audrey Yu pernah bekerja di NASA dan bertemu Jokowi di KTT G20". Berbagai informasi tersebar tanpa mengandung kebenaran yang valid. Lebih menyeramkannya lagi, ada beberapa informasi yang diyakinkan dengan beberapa dukungan gambar. Beberapa kali terakhir, dunia digital dihebohkan dengan unggahan yang berupa gambar seorang pegawai berseragam sedang memeriksa daging cincang yang tampak seperti jenazah manusia dan dilengkapi dengan kalimat "Hati-hati daging manusia impor dari China". Isu-isu sejenis ini kerap kali memenuhi wall atau timeline account media sosial hampir kita semua.

Mungkin isu itu terdengar ringan bagi sebagian orang, namun tidak bagi sebagian yang lainnya, bahkan bisa jadi memberikan dampak yang begitu mengerikan. Misalnya saja untuk isu terakhir yang disebutkan di atas, bagi pengguna yang meyakini kebenaran hal tersebut maka ia akan menceritakan dan mencoba meyakinkan orang-orang disekitarnya mengenai kebenaran isu tersebut.

Bisa jadi, orang-orang di sekitarnya juga akan menyebarkan isu tersebut ke lebih banyak orang, kemudian isu tersebut akan meluas dan semakin melebar. Rantai komunikasi isu semakin panjang dan panjang, begitu seterusnya. Pada akhirnya, isu akan semakin membesar dan menyebar bahkan dari mulut ke mulut.

Celakanya penyebaran isu tersebut tanpa disertai dengan pengetahuan yang benar mengenai status kebenaran isi beritanya. Dalam isu terakhir yang disampaikan di atas, penyebaran isu ini akan memberikan opini yang bisa jadi mendiskreditkan sebuah negara. Dan bagaimana jika negara yang terkait dalam isu tersebut ikut bicara? Masih terpampang segar dalam ingatan kita hanya karena hoax isu nuklir, hubungan Pakistan - Israel memanas di beberapa tahun yang lalu.

Dari contoh kasus ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi memiliki sisi negatif yang membahayakan. Apalagi andilnya sebagai media penyebaran berita bohong atau hoax.

Deteksi Hoax dengan Teknologi? Nggak cukup bro!

Virus dan antivirus, itulah istilah yang tepat bagi hoax dan deteksi hoax. Hoax mulai merajalela ketika informasi dengan mudah kita dapatkan melalui hasil perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Teknologi selalu membawa kabar baik dan buruk, salah satu kabar terburuk yang tidak bisa kita hindari adalah kelahiran hoax. Mau tidak mau, suka tidak suka, hoax akan segera menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kemunculan virus tentu harus diikuti dengan kemunculan antivirus. Begitu juga dengan hoax. Kemunculannya membawa beberapa pemikiran mengenai teknologi yang memberikan solusi identifikasi informasi hoax. Pada teknologi deteksi hoax kita akan mampu untuk mengetahui apakah informasi yang kita dapatkan merupakan informasi yang benar atau salah. Informasi yang beredar akan dapat diidentifikasi pada pada aplikasi yang didukung dengan teknologi deteksi hoax.

Sejatinya, semenjak hoax muncul, sudah banyak beredar aplikasi yang mencoba mengindentifikasikannya. Namun aplikasi yang bermunculan itu dianggap tidak mudah digunakan. Beberapa diantaranya hanya dapat digunakan melalui web, sehingga pengguna harus membuka browser pada laptop, tablet, atau smartphone tersendiri. Ada juga aplikasi yang hanya bisa mengindentifikasi informasi berupa teks atau gambar saja, tidak dapat memeriksa keduanya.

Yang kurang diikutsertakan dalam aplikasi pendeteksi hoax adalah keterlibatan orang atau masyarakat. Di hampir setiap negara, sebagian masyarakatnya, cenderung tidak memperhatikan kredibilitas sumber beritanya ketika ia menerima atau menyebarkan suatu berita. Sehingga, seringkali sumber berita yang tidak memiliki kaidah jurnalistik yang jelas, malah dianggap valid dan dijadikan sebagai sumber dari berita yang disebarkannya. New York Times menyebut hal ini sebagai "virus digital", yaitu berita-berita bohong yang kerap kali dibumbui dengan judul yang bombastis dan menarik perhatian.

Peran Masyarakat Mendeteksi Hoax

Hoax adalah musuh kita bersama. Sudah sewajarnya jika kita bersama-sama bertekad menghadapinya. Keterlibatan dan peran kita dalam memerangi hoax bisa jadi menjadi kekuatan yang signifikan dalam memenangkan perang ini. Lalu bagaimana menyalurkan peran ini? Pernah mendengar Detax?

picture

Detax merupakan singkatan dari “Deteksi Hoax”. Sebuah program pendeteksi hoax yang diklaim mampu mengakomodasi peran setiap orang dan sangat mudah digunakan. Hal ini cukup beralasan karena Detax mampu berintegrasi dengan berbagai aplikasi media sosial dan web browser populer. Baik pengguna maupun pelapor hoax (kontributor) dapat berperan langsung melalui berbagai platform, seperti: iOS, Android, juga web browser yang dimilikinya.

Kemudahan inilah yang diharapkan oleh Detax, dapat menjadi penarik kepedulian masyarakat dalam memerangi hoax secara bersama-sama. Detax ingin menjadi wadah partisipasi masyarakat dalam mencegah potensi hoax pada suatu informasi dan memotong rantai penyebarannya sejak dini. Sehingga tak berlebihan jika ia kemudian bermimpi untuk mewujudkan internet yang sehat, bebas dari hoax. Walaupun tak dapat dikatakan bebas dari hoax, setidaknya pengetahuan terhadap kebenaran suatu berita dapat teridentifikasi lebih cepat.

Mampukah Teknologi dan Manusia Bersinergi?

Teknologi, jika dipadukan dengan peran aktif manusia tentu akan menjadi kekuatan yang luar biasa dalam mencegah penyebaran hoax. Detax didesain sedemikian rupa sehingga memadukan peran teknologi dan peran manusia sebagai senjata andalan memerangi hoax.

Detax menggunakan algoritma yang mirip dengan algoritma antivirus, yakni berbasis signature dan berbasis heuristic. Algoritma signature mendeteksi suatu konten berdasarkan data yang ada di dalam database. Algoritma heuristic memungkinkan Detax mengenali konten-konten baru yang belum terdapat di dalam signature database.

Pengklasifikasian konten didasarkan pada definisi hoax dan heuristik algoritma AI. Hoax didefinisikan seperti virus atau malware dalam dunia antivirus. Ketika Detax melakukan scanning, definisi hoax dapat terus diperbaharui secara berkala setiap ditemukan issue baru, sehingga Detax dapat semakin akurat dalam mendeteksi hoax.

Untuk itu, Detax juga membutuhkan kontribusi dari pengguna untuk memperkaya data dengan cara melaporkan konten-konten melalui web atau aplikasi Detax. Bagi para developer, tersedia API yang memudahkan penggunaan layanan Detax.

Detax, Pendeteksi hoax yang Mudah dan Mumpuni

picture

Kehadiran Detax menjadi angin segar dalam upaya menekan penyebaran hoax di media sosial. Kemampuan Detax yang dapat dengan akurat mengidentifikasi dini suatu konten dengan mudah, memungkinkan kita untuk me-report konten, baik sebagai hoax atau fakta kelak dikemudian hari.

Kehadiran Detax mengusung kemudahan akses, selain dapat digunakan dengan cara menginstal aplikasinya melalui Play Store atau Apple Store, Detax juga dapat diakses melalui web browser. Pengguna dapat melakukan content scanning pada berbagai media hanya dengan klik kanan kemudian klik menu "Scan with Detax". Sedemikian mudahnya.

Kita patut berbangga dengan kemudahan akses dan teknologi yang ditawarkan oleh Detax. Bahkan dengan teknologi AI, Detax dapat berperan sebagai telegram bot. Impaknya pengguna dapat dengan mudah meneruskan beragam pesan yang ingin kita scan secara langsung ke telegram bot tersebut. Dan, simsalabim, Detax bot akan langsung merespons dengan hasil scan, apakah konten yang kita kirim tersebut merupakan konten hoax atau bukan.

Kesehatan konten internet dan media sosial sepertinya bukan mimpi lagi!