by Tim Ansvia - Wed 11:00:40 Jul 3 2019

Apakah yang Anda cari pertama kali ketika bangun tidur? Saya kira jawabannya akan sama, yaitu mencari gadget untuk cek notif bukan? Ya, saat ini aktivitas keseharian kita tidak bisa lepas dari handphone. Mulai dari bangun tidur, ke kantor, tempat ibadah, kongkow, ngobrol, meeting dengan client, sampai kita tidur lagi sangat lengket dengan handphone. Sudah seperti pacar deh. Bahkan banyak yang berkata "pacar pertama adalah gadget, yang lainnya menyusul."

Dunia teknologi selalu mengalami perkembangan hingga saat ini dan hal itu mutlak terjadi. Melekat bahkan menyatu pada diri manusia. Saat ini kita sedang migrasi ke industri 4.0 yang erat kaitannya dengan dunia digital. Sadar tidak sadar, mau tidak mau, secara perlahan sikap kita juga ikut melakukan migrasi ke behavior 4.0 yang erat kaitannya dengan dunia digital.

Berkenaan dengan era yang serba digital, kita juga sering melihat fenomena atau peristiwa yang mudah sekali viral di media sosial. Namun sayangnya tidak semua konten yang viral tersebut merupakan konten yang baik dan bermanfaat. Bahkan terdapat konten yang berisi berita bohong, provokasi, tindak kekerasan, dan bullying, sehingga kita sebagai pembaca perlu mem-filter konten yang diterima.

Kehadiran Digital Quotient (DQ)

Banyaknya variasi konten dalam dunia digital serta derasnya arus perputaran informasi digital, mengharuskan kita untuk benar-benar cerdas dalam menggunakan teknologi, khususnya media sosial.

picture

Sejauh ini kita sudah banyak mengenal term terkait ukuran kemampuan manusia mulai dari Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), Adversitas Quotient (AQ), dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Tidak berhenti di sana, perkembangan teknologi yang pesat melahirkan term baru dengan nama Digital Quotient (DQ). Sebuah term yang digunakan untuk mengetahui seberapa pintar kita berinteraksi dalam penggunaan media sosial. DQ memiliki cakupan yang sangat luas mulai dari bagaimana kita berinteraksi dalam media sosial, bagaimana kita mendapatkan dan menyebarkan informasi, hingga sampai pada level bagaimana kita memanfaatkan dunia digital untuk kebutuhan bisnis.

Tidak dipungkiri bahwa social network kini menjadi wadah bagi netizen -mayoritas netizen- untuk menggantungkan komunikasi sosialnya. Melalui media sosial yang semakin banyak berkembang memungkinkan informasi menyebar dengan sangat mudah di lingkaran masyarakat. Informasi dalam bentuk apapun dapat disebarluaskan secara mudah dan cepat sehingga mempengaruhi segala sudut pandang kehidupan. Dengan media sosial, kita diajak untuk berdialog, mengasah ketajaman berpikir dan memahami alam semesta.

Banyaknya penyedia social network membawa potensi jumlah pengguna yang besar di media sosial. Dan sewajarnya jika dimanfaatkan secara bijaksana dalam mendistribusikan segala konten atau informasi dari media yang sedang dibangun. Pada dasarnya, selain memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik di lingkungan sosial, media sosial juga memberikan kesempatan kepada milenial untuk terus belajar sehingga tidak gagap teknologi. Selain itu, dapat juga mempercepat maturity (kedewasaan jiwa) apabila digunakan dengan cara yang bijaksana.

Akan tetapi, tidak semua yang ada di media sosial bersifat mendukung. Pola jaringan sosial yang negatif juga tidak dapat dihindari. Tidak jarang komunikasi melalui media sosial menuai problematika yang berujung di meja hijau. Munculnya beberapa kasus terkait penyalahgunaan jejaring sosial marak terjadi, salah satunya adalah bullying.

Pentingnya DQ

Semenjak adanya media sosial, netizen cenderung ingin membangun image yang terlihat berkesan saat pertama kali dilihat. Oleh karena itu tidak heran apabila netizen atau pengguna media sosial di dunia maya bisa menjadi orang yang berbeda di dunia nyata-nya. Apakah hal itu bisa terjadi? Ya tentu saja. Banyak di sekeliling kita yang di kesehariannya terlihat cerdas dan berpendidikan namun sering menghujat di kolom komentar. Contoh lain, orang yang kelihatannya alim namun sering menyebarkan konten hoax di media sosial. Itu baru sedikit contoh dan masih ada contoh lain yang terjadi di sekitar kita. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Hal itu bisa terjadi ketika kita menganggap bahwa dunia internet adalah dunia maya sedikit banyak mempengaruhi kita dalam menggunakannya dan berinteraksi di dalamnya. Disinilah kehadiran DQ dibutuhkan, karena pada kenyataannya, tingginya IQ/EQ/SQ tidak dapat menjamin seseorang pintar dalam berdigital.

Bullying Hadir karena Minimnya DQ

Mari memutar ingatan mengenai bullying yang berhasil mengguncang dunia digital dengan topic #JusticeForAudrey di awal tahun 2019. Berlomba-lomba mendukung aksi bela Audrey padahal tidak mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya. Hanya ikut-ikut berhadiah seolah-olah membela kebenaran. Aksi tersebut tidak berhenti pada posting #JusticeForAudrey di sana-sini, mereka bahkan dengan sigap mencari profil orang-orang yang diberitakan sebagai pelaku pembullyan. Begitu udah dapet, secara besar-besaran netizen melakukan bullying pada mereka yang diberitakan sebagai pelaku. Luar biasa bukan?, korban bullying berpindah tempat dan mengarah pada “para pelaku”.

Hal lucu lain dari peristiwa ini terjadi ketika netizen lagi semangat-semangatnya ngehujat “si pelaku” muncul sebuah fakta yang menginformasikan bahwa kejadian #JusticeForAudrey tidak semenyeramkan itu. Dan lagi-lagi, netizen dibuat goyah dalam opininya. Muncullah #audreyjugabersalah, betapa lucunya, prank tingkat nasional yang membuat banyak orang terlanjur eksplosif.

Peristiwa serupa #JusticeForAudrey begitu banyak terjadi di jagad digital. Sebut saja salah satunya #SaveAgni. Peristiwa yang dialami oleh mahasiswa UGM mengenai pelecehan seksual. Jika pada peristiwa itu kalian masih melakukan hal yang serupa dengan #JusticeForAudrey, maka kalian sangat perlu meningkatkan DQ yang kalian miliki.

picture

Perubahan zaman harus diikuti dengan perubahan perilaku dari penggunanya. Berusaha untuk menjadi masyarakat digital yang tidak mudah latah menyikapi hal-hal yang sedang viral, serta tidak mudah terprovokasi menyebar informasi negatif. Keterbukaan informasi tidak menjamin semua hal benar adanya, jika memang benar tidak semua hal harus disebarluaskan. Hal-hal yang memang harus disebarluaskan, akankah lebih baik jika disampaikan dengan cara yang benar.

Segala hal yang kita lakukan tentu ada tanggung jawab untuk selanjutnya, begitu juga dengan semua hal yang kita lakukan di dunia digital. Untuk itu kita tidak hanya perlu sibuk meningkatkan kemampuan IQ, EQ, atau SQ namun kemampuan DQ juga harus mulai ditingkatkan.

Apakah yang Anda cari pertama kali ketika bangun tidur? Saya kira jawabannya akan sama, yaitu mencari gadget untuk cek notif bukan? Ya, saat ini aktivitas keseharian kita tidak bisa lepas dari handphone. Mulai dari bangun tidur, ke kantor, tempat ibadah, kongkow, ngobrol, meeting dengan client, sampai kita tidur lagi sangat lengket dengan handphone. Sudah seperti pacar deh. Bahkan banyak yang berkata "pacar pertama adalah gadget, yang lainnya menyusul."

Dunia teknologi selalu mengalami perkembangan hingga saat ini dan hal itu mutlak terjadi. Melekat bahkan menyatu pada diri manusia. Saat ini kita sedang migrasi ke industri 4.0 yang erat kaitannya dengan dunia digital. Sadar tidak sadar, mau tidak mau, secara perlahan sikap kita juga ikut melakukan migrasi ke behavior 4.0 yang erat kaitannya dengan dunia digital.

Berkenaan dengan era yang serba digital, kita juga sering melihat fenomena atau peristiwa yang mudah sekali viral di media sosial. Namun sayangnya tidak semua konten yang viral tersebut merupakan konten yang baik dan bermanfaat. Bahkan terdapat konten yang berisi berita bohong, provokasi, tindak kekerasan, dan bullying, sehingga kita sebagai pembaca perlu mem-filter konten yang diterima.

Kehadiran Digital Quotient (DQ)

Banyaknya variasi konten dalam dunia digital serta derasnya arus perputaran informasi digital, mengharuskan kita untuk benar-benar cerdas dalam menggunakan teknologi, khususnya media sosial.

picture

Sejauh ini kita sudah banyak mengenal term terkait ukuran kemampuan manusia mulai dari Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), Adversitas Quotient (AQ), dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Tidak berhenti di sana, perkembangan teknologi yang pesat melahirkan term baru dengan nama Digital Quotient (DQ). Sebuah term yang digunakan untuk mengetahui seberapa pintar kita berinteraksi dalam penggunaan media sosial. DQ memiliki cakupan yang sangat luas mulai dari bagaimana kita berinteraksi dalam media sosial, bagaimana kita mendapatkan dan menyebarkan informasi, hingga sampai pada level bagaimana kita memanfaatkan dunia digital untuk kebutuhan bisnis.

Tidak dipungkiri bahwa social network kini menjadi wadah bagi netizen -mayoritas netizen- untuk menggantungkan komunikasi sosialnya. Melalui media sosial yang semakin banyak berkembang memungkinkan informasi menyebar dengan sangat mudah di lingkaran masyarakat. Informasi dalam bentuk apapun dapat disebarluaskan secara mudah dan cepat sehingga mempengaruhi segala sudut pandang kehidupan. Dengan media sosial, kita diajak untuk berdialog, mengasah ketajaman berpikir dan memahami alam semesta.

Banyaknya penyedia social network membawa potensi jumlah pengguna yang besar di media sosial. Dan sewajarnya jika dimanfaatkan secara bijaksana dalam mendistribusikan segala konten atau informasi dari media yang sedang dibangun. Pada dasarnya, selain memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik di lingkungan sosial, media sosial juga memberikan kesempatan kepada milenial untuk terus belajar sehingga tidak gagap teknologi. Selain itu, dapat juga mempercepat maturity (kedewasaan jiwa) apabila digunakan dengan cara yang bijaksana.

Akan tetapi, tidak semua yang ada di media sosial bersifat mendukung. Pola jaringan sosial yang negatif juga tidak dapat dihindari. Tidak jarang komunikasi melalui media sosial menuai problematika yang berujung di meja hijau. Munculnya beberapa kasus terkait penyalahgunaan jejaring sosial marak terjadi, salah satunya adalah bullying.

Pentingnya DQ

Semenjak adanya media sosial, netizen cenderung ingin membangun image yang terlihat berkesan saat pertama kali dilihat. Oleh karena itu tidak heran apabila netizen atau pengguna media sosial di dunia maya bisa menjadi orang yang berbeda di dunia nyata-nya. Apakah hal itu bisa terjadi? Ya tentu saja. Banyak di sekeliling kita yang di kesehariannya terlihat cerdas dan berpendidikan namun sering menghujat di kolom komentar. Contoh lain, orang yang kelihatannya alim namun sering menyebarkan konten hoax di media sosial. Itu baru sedikit contoh dan masih ada contoh lain yang terjadi di sekitar kita. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Hal itu bisa terjadi ketika kita menganggap bahwa dunia internet adalah dunia maya sedikit banyak mempengaruhi kita dalam menggunakannya dan berinteraksi di dalamnya. Disinilah kehadiran DQ dibutuhkan, karena pada kenyataannya, tingginya IQ/EQ/SQ tidak dapat menjamin seseorang pintar dalam berdigital.

Bullying Hadir karena Minimnya DQ

Mari memutar ingatan mengenai bullying yang berhasil mengguncang dunia digital dengan topic #JusticeForAudrey di awal tahun 2019. Berlomba-lomba mendukung aksi bela Audrey padahal tidak mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya. Hanya ikut-ikut berhadiah seolah-olah membela kebenaran. Aksi tersebut tidak berhenti pada posting #JusticeForAudrey di sana-sini, mereka bahkan dengan sigap mencari profil orang-orang yang diberitakan sebagai pelaku pembullyan. Begitu udah dapet, secara besar-besaran netizen melakukan bullying pada mereka yang diberitakan sebagai pelaku. Luar biasa bukan?, korban bullying berpindah tempat dan mengarah pada “para pelaku”.

Hal lucu lain dari peristiwa ini terjadi ketika netizen lagi semangat-semangatnya ngehujat “si pelaku” muncul sebuah fakta yang menginformasikan bahwa kejadian #JusticeForAudrey tidak semenyeramkan itu. Dan lagi-lagi, netizen dibuat goyah dalam opininya. Muncullah #audreyjugabersalah, betapa lucunya, prank tingkat nasional yang membuat banyak orang terlanjur eksplosif.

Peristiwa serupa #JusticeForAudrey begitu banyak terjadi di jagad digital. Sebut saja salah satunya #SaveAgni. Peristiwa yang dialami oleh mahasiswa UGM mengenai pelecehan seksual. Jika pada peristiwa itu kalian masih melakukan hal yang serupa dengan #JusticeForAudrey, maka kalian sangat perlu meningkatkan DQ yang kalian miliki.

picture

Perubahan zaman harus diikuti dengan perubahan perilaku dari penggunanya. Berusaha untuk menjadi masyarakat digital yang tidak mudah latah menyikapi hal-hal yang sedang viral, serta tidak mudah terprovokasi menyebar informasi negatif. Keterbukaan informasi tidak menjamin semua hal benar adanya, jika memang benar tidak semua hal harus disebarluaskan. Hal-hal yang memang harus disebarluaskan, akankah lebih baik jika disampaikan dengan cara yang benar.

Segala hal yang kita lakukan tentu ada tanggung jawab untuk selanjutnya, begitu juga dengan semua hal yang kita lakukan di dunia digital. Untuk itu kita tidak hanya perlu sibuk meningkatkan kemampuan IQ, EQ, atau SQ namun kemampuan DQ juga harus mulai ditingkatkan.