by Tim Ansvia - Mon 10:31:03 Jun 24 2019

Baru-baru ini netizen milenial dibikin kaget oleh salah satu aplikasi sosial favoritnya. Pasalnya, saat sedang asyik scrolling timeline di Instagram, gambar yang seharusnya muncul tiba-tiba terhenti dan kemudian digantikan dengan icon loading yang berputar terus menerus. Meskipun sudah dicoba reload berkali-kali namun gambar tetap tidak kunjung muncul. Bagi milenial, tentu sangat menyebalkan. Belum lagi mendapati bahwa jaringan internet miliknya lagi prima-primanya, akses ke Youtube lancar jaya, dan bahkan baterai handphone-pun ia pastikan dalam keadaan full. Ia yakin, masalah bukan di dirinya!

Sudah bisa ditebak, kejadian selanjutnya adalah media sosial lain -jika masih aktif- akan dibanjiri oleh keluhan netizen atas masalah ini. Di Twitter misalnya, hanya dalam hitungan menit #InstagramDown, #InstagramSedangDown, dan sejenisnya mulai menjadi trending topic di Indonesia. Hal yang sama juga terjadi di Facebook (FB). Berbagai keluhan dan curhatan Instagram Down sempat membanjiri FB wall netizen.

Apa Sih yang Terjadi?

Dilansir dari Downdetector, sebuah situs yang aktif menginformasikan kondisi “kesehatan” setiap situs layanan internet, menyebutkan bahwa beberapa media sosial selain instagram, seperti facebook, whatsapp, dan twitter pernah mengalami down, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Sebagai contoh laporan Downdetector pada hari Rabu (13/3/19) jam 12 siang waktu AS atau hari Kamis (14/3/19) dini hari waktu Indonesia, pengguna Facebook sulit mengakses platform tersebut. Kesulitan akses bahkan sudah dimulai sejak dari proses login, lalu saat mengunggah foto/video, hingga ketika ingin saling memberikan komentar.

Saat itu Facebook langsung buka suara, secara resmi Laman Developer Facebook menjelaskan bahwa kondisi yang sedang menimpa mereka disebut sebagai “pemadaman sebagian” dan Facebook mengakui bahwa mereka mengalami “kenaikan rasio kesalahan”.

Nah kasus Instagram berbeda. Instagram tidak segera memberikan keterangan resmi. Akibatnya para peneliti keamanan, memberikan kemungkinan-kemungkinan penyebabnya. Salah satunya mereka meyakini bahwa down yang terjadi pada media sosial bukan karena serangan DDoS. Jenis serangan DDoS sangat sulit menjebol sistem keamanan perusahaan besar sekelas Instagram, Google, atau Facebook, yang mana telah memiliki bandwith besar, bahkan bisa disebut terbesar di dunia.

Kecurigaan selanjutnya adalah kemungkinan serangan eksploitasi 0 day vulnerability atau adanya celah keamanan baru yang belum pernah diumumkan atau belum pernah ditemukan obatnya. Atau karena adanya proses pembaharuan mesin (update engine).

Meskipun pembicaraan penyebab down ramai dibicarakan, namun Instagram tetap tidak kunjung memberikan penjelasan yang transparan penyebab down layanannya. Selain hanya klarifikasi bahwa pihaknya akan segera menginvestigasi dan memperbaiki permasalahannya.

Sosial Media di Hati Pekerja Milenial

Ungkapan kekecewaan netizen hadir bukan tanpa alasan, kini mayoritas netizen -bisa jadi- lebih menggantungkan komunikasi sosialnya melalui social network. Bisa dibayangkan jika jalur komunikasinya terganggu atau bahkan tidak dapat digunakan sama sekali. Sungguh sangat mengecewakan, bukan?

picture

Saya teringat kisah minggu lalu, sahabat saya bercerita bahwa ia "dipaksa" menggunakan media sosial instagram oleh anak kesayangannya. Sahabat saya ini lahir sebelum generasi milenial. Maka tak heran jika ia memiliki perilaku bersosial yang sangat berbeda dengan generasi milenial pada umumnya.

Jika milenial sangat terbuka dan adaptif terhadap kehadiran media sosial, ia justru takut dan sangat hati-hati dalam mencantumkan data ataupun informasi pada account media sosial yang dimiliki.

Informasi mengenai data diri, status, tempat bekerja, foto, aktivitas, organisasi, pendidikan, serta data pribadi lainnya disimpan rapat-rapat. Maka ia sangat terkejut mendengar jawaban anaknya ketika ia tanyakan keberadaannya, "Lagi di mana, Mas?", alih-alih menjawab di mana dia berada, anaknya menjawab "Kan aku sudah live di instagram, Pah".

Pengalaman ini ternyata tidak hanya dialami oleh sahabat saya saja. Beberapa kolega yang lain juga menghadapi hal yang sama. Bahkan di lingkungan kerja, hampir semua pekerja milenial memiliki perilaku bersosialisasi yang kurang lebih sama.

Ekpresif, tech minded, fast respond, terbuka, dan adaptif terhadap cara-cara baru dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Mereka idealis, mampu mengeluarkan isi kepala dengan baik sehingga tak jarang dengan suka rela menjadi "agen" perubahan dalam implementasi teknologi di lingkungan kerja.

Milenial yang Terganggu

Pertama, bagi para milenial bisnis. Milenial sangat familiar dengan e-commerce yang menjadikan media sosial sebagai media untuk berkomunikasi dengan pelanggan. Setiap hari milenial tak jarang harus merespons pertanyaan customer, upload gambar terbaru, atau memberikan informasi tertentu.

Kedua, milenial selebriti, yang eksis karena media sosial. Sebut saja selebgram, selebriti instagram yang meraup penghasilan melalui endorse produk, mulai dari baju, jilbab, skincare, make up, dan seterusnya. Tarifnya pun berbeda-beda, tergantung berapa banyak jumlah followers-nya, dan seberapa berpengaruhnya pada banyak orang.

Ambil contoh Awkarin misalnya. Selebgram dengan followers 4.4 juta ini mematok harga 1.5 juta sampai 13 juta untuk satu kali posting endorsement. Kalau akibat dari down Instagram menghambat endorsmentnya, berapa juta potensi kerugian yang akan ditanggungnya?

picture

Nah yang ketiga, dampak bagi para milenial bucin. Istilah bucin memang baru muncul belakangan ini. Oleh milenial, Bucin (Budak Cinta) disematkan kepada mereka-mereka yang bergantung pada media sosial sebagai media komunikasi atas masalah percintaannya. Tidak dapat melepaskan diri dari pasangan adalah salah satu ciri Bucin. Komunikasi adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diabaikan ketika menjalani hari secara terpisah. Dan tentunya media sosial menjadi solusi terbaik untuk mendapatkan kabar serta cara untuk memantau pasangan masing-masing.

Ketika komunikasi berjalan lancar saja masih terjadi salah prasangka, apalagi kalau komunikasi berjalan dengan tidak baik akibat media sosial yang down. Wah bisa jadi hubungan yang kandas akan segera terjadi.

Tim Ansvia

Baru-baru ini netizen milenial dibikin kaget oleh salah satu aplikasi sosial favoritnya. Pasalnya, saat sedang asyik scrolling timeline di Instagram, gambar yang seharusnya muncul tiba-tiba terhenti dan kemudian digantikan dengan icon loading yang berputar terus menerus. Meskipun sudah dicoba reload berkali-kali namun gambar tetap tidak kunjung muncul. Bagi milenial, tentu sangat menyebalkan. Belum lagi mendapati bahwa jaringan internet miliknya lagi prima-primanya, akses ke Youtube lancar jaya, dan bahkan baterai handphone-pun ia pastikan dalam keadaan full. Ia yakin, masalah bukan di dirinya!

Sudah bisa ditebak, kejadian selanjutnya adalah media sosial lain -jika masih aktif- akan dibanjiri oleh keluhan netizen atas masalah ini. Di Twitter misalnya, hanya dalam hitungan menit #InstagramDown, #InstagramSedangDown, dan sejenisnya mulai menjadi trending topic di Indonesia. Hal yang sama juga terjadi di Facebook (FB). Berbagai keluhan dan curhatan Instagram Down sempat membanjiri FB wall netizen.

Apa Sih yang Terjadi?

Dilansir dari Downdetector, sebuah situs yang aktif menginformasikan kondisi “kesehatan” setiap situs layanan internet, menyebutkan bahwa beberapa media sosial selain instagram, seperti facebook, whatsapp, dan twitter pernah mengalami down, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Sebagai contoh laporan Downdetector pada hari Rabu (13/3/19) jam 12 siang waktu AS atau hari Kamis (14/3/19) dini hari waktu Indonesia, pengguna Facebook sulit mengakses platform tersebut. Kesulitan akses bahkan sudah dimulai sejak dari proses login, lalu saat mengunggah foto/video, hingga ketika ingin saling memberikan komentar.

Saat itu Facebook langsung buka suara, secara resmi Laman Developer Facebook menjelaskan bahwa kondisi yang sedang menimpa mereka disebut sebagai “pemadaman sebagian” dan Facebook mengakui bahwa mereka mengalami “kenaikan rasio kesalahan”.

Nah kasus Instagram berbeda. Instagram tidak segera memberikan keterangan resmi. Akibatnya para peneliti keamanan, memberikan kemungkinan-kemungkinan penyebabnya. Salah satunya mereka meyakini bahwa down yang terjadi pada media sosial bukan karena serangan DDoS. Jenis serangan DDoS sangat sulit menjebol sistem keamanan perusahaan besar sekelas Instagram, Google, atau Facebook, yang mana telah memiliki bandwith besar, bahkan bisa disebut terbesar di dunia.

Kecurigaan selanjutnya adalah kemungkinan serangan eksploitasi 0 day vulnerability atau adanya celah keamanan baru yang belum pernah diumumkan atau belum pernah ditemukan obatnya. Atau karena adanya proses pembaharuan mesin (update engine).

Meskipun pembicaraan penyebab down ramai dibicarakan, namun Instagram tetap tidak kunjung memberikan penjelasan yang transparan penyebab down layanannya. Selain hanya klarifikasi bahwa pihaknya akan segera menginvestigasi dan memperbaiki permasalahannya.

Sosial Media di Hati Pekerja Milenial

Ungkapan kekecewaan netizen hadir bukan tanpa alasan, kini mayoritas netizen -bisa jadi- lebih menggantungkan komunikasi sosialnya melalui social network. Bisa dibayangkan jika jalur komunikasinya terganggu atau bahkan tidak dapat digunakan sama sekali. Sungguh sangat mengecewakan, bukan?

picture

Saya teringat kisah minggu lalu, sahabat saya bercerita bahwa ia "dipaksa" menggunakan media sosial instagram oleh anak kesayangannya. Sahabat saya ini lahir sebelum generasi milenial. Maka tak heran jika ia memiliki perilaku bersosial yang sangat berbeda dengan generasi milenial pada umumnya.

Jika milenial sangat terbuka dan adaptif terhadap kehadiran media sosial, ia justru takut dan sangat hati-hati dalam mencantumkan data ataupun informasi pada account media sosial yang dimiliki.

Informasi mengenai data diri, status, tempat bekerja, foto, aktivitas, organisasi, pendidikan, serta data pribadi lainnya disimpan rapat-rapat. Maka ia sangat terkejut mendengar jawaban anaknya ketika ia tanyakan keberadaannya, "Lagi di mana, Mas?", alih-alih menjawab di mana dia berada, anaknya menjawab "Kan aku sudah live di instagram, Pah".

Pengalaman ini ternyata tidak hanya dialami oleh sahabat saya saja. Beberapa kolega yang lain juga menghadapi hal yang sama. Bahkan di lingkungan kerja, hampir semua pekerja milenial memiliki perilaku bersosialisasi yang kurang lebih sama.

Ekpresif, tech minded, fast respond, terbuka, dan adaptif terhadap cara-cara baru dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Mereka idealis, mampu mengeluarkan isi kepala dengan baik sehingga tak jarang dengan suka rela menjadi "agen" perubahan dalam implementasi teknologi di lingkungan kerja.

Milenial yang Terganggu

Pertama, bagi para milenial bisnis. Milenial sangat familiar dengan e-commerce yang menjadikan media sosial sebagai media untuk berkomunikasi dengan pelanggan. Setiap hari milenial tak jarang harus merespons pertanyaan customer, upload gambar terbaru, atau memberikan informasi tertentu.

Kedua, milenial selebriti, yang eksis karena media sosial. Sebut saja selebgram, selebriti instagram yang meraup penghasilan melalui endorse produk, mulai dari baju, jilbab, skincare, make up, dan seterusnya. Tarifnya pun berbeda-beda, tergantung berapa banyak jumlah followers-nya, dan seberapa berpengaruhnya pada banyak orang.

Ambil contoh Awkarin misalnya. Selebgram dengan followers 4.4 juta ini mematok harga 1.5 juta sampai 13 juta untuk satu kali posting endorsement. Kalau akibat dari down Instagram menghambat endorsmentnya, berapa juta potensi kerugian yang akan ditanggungnya?

picture

Nah yang ketiga, dampak bagi para milenial bucin. Istilah bucin memang baru muncul belakangan ini. Oleh milenial, Bucin (Budak Cinta) disematkan kepada mereka-mereka yang bergantung pada media sosial sebagai media komunikasi atas masalah percintaannya. Tidak dapat melepaskan diri dari pasangan adalah salah satu ciri Bucin. Komunikasi adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diabaikan ketika menjalani hari secara terpisah. Dan tentunya media sosial menjadi solusi terbaik untuk mendapatkan kabar serta cara untuk memantau pasangan masing-masing.

Ketika komunikasi berjalan lancar saja masih terjadi salah prasangka, apalagi kalau komunikasi berjalan dengan tidak baik akibat media sosial yang down. Wah bisa jadi hubungan yang kandas akan segera terjadi.

Tim Ansvia