by Wahyu Nurvidya - Tue 02:41:40 May 28 2019

Tepat tanggal 22 Mei 2019, Indonesia menghadirkan drama baru untuk merayakan hasil rekapitulasi Pilpres 2019 oleh KPU. Terpilihnya pasangan Jokowi-Ma’ruf menimbulkan banyak sikap kontra dari masyarakat Indonesia. Berbagai lapisan masyarakat berbondong-bondong memenuhi Ibu Kota untuk menyuarakan pendapatnya. Dan tidak menutup kemungkinan, terselip provokasi dari oknum yang tidak akan bertanggung jawab.

Satu hal yang menarik dari peristiwa tersebut adalah munculnya kebijakan pemerintah untuk membatasi penggunaan media sosial guna meminimalisasi tersebarnya berita hoax. Sebagai negara dengan pengguna media sosial mencapai 56% dari total populasi (berdasarkan riset We Are Social dan Hootsuite), memungkinkan masyarakatnya tidak bisa melepaskan diri dari media sosial.

Terbukti, masyarakat segera merespon kebijakan tersebut. Salah satu keluhan disampaikan warga net (netizen) melalui Twitter dengan tagar #instagramdown #whatsappdown. Dan tidak lama kemudian, tagar ini menjadi trending topic di twitter dalam beberapa hari.

VPN "Naik Daun"

Seperti judul buku dari kumpulan surat RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”, keluhan-keluhan netizen tersebut seolah menjumpai titik terang, muncullah rekomendasi penggunaan Virtual Private Network (VPN).

picture

VPN mendadak naik daun dan menjadi primadona bagi mayoritas pegiat media sosial. Pasalnya, banyak dari mereka yang bahkan menggantungkan aktivitasnya pada platform media sosial dalam menjalin komunikasi dengan keluarga, pekerjaan, hingga bisnis online.

Pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha mengungkapkan bahwa VPN secara sederhana dapat dipahami sebagai tunnel atau jalur khusus dari penyedia layanan VPN yang memungkinkan pengguna berkamuflase dengan alamat IP untuk bisa masuk ke situs yang terblokir.

Namun, selayaknya mata uang, VPN juga memiliki dua sisi yang berisi kekurangan dan kelebihan. Penggunaan yang tidak hati-hati dan minimnya literasi digital membuat VPN cenderung memberikan dampak negatif bahkan beralih menjadi hal yang membahayakan.

Waspadai dan Pahami Risiko VPN Gratis

Popularitas VPN di kalangan pengguna internet yang meluas akhirnya membuat para pengembang menyediakan dua versi VPN, yakni VPN secara gratis dan berbayar. Sudah dipastikan bahwa VPN berbayar menghadirkan keamanan yang lebih dibandingkan VPN gratis, karena VPN berbayar biasanya dibuat oleh perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber.

Yang gratis memang menggoda, namun penggunaan VPN yang gratis cukup berisiko. Beberapa bahaya yang mengintai penggunaan VPN gratis adalah trojan, adware, malvertising, atau bahkan spyware. Selain itu, serangan Man in the Middle (serangan terhadap komputer yang saling berhubungan satu sama lain) juga tidak jarang untuk menghampiri.

Risiko tersebut menghadirkan potensi si penyerang berada di tengah jalur komunikasi untuk membaca, membajak, dan mencuri data serta yang paling buruk adalah menyisipkan malware. Sebab, secara sistematis, VPN bekerja seperti terowongan dengan koneksi pengguna melewati jalur khusus dalam mengakses internet. Selayaknya terowongan, tidak mengherankan jika jalur tersebut memiliki banyak kebocoran.

picture

Cara Aman Menggunakan VPN Gratis

Menurut Alfons, pendiri ID Institute, penggunaan VPN gratis dapat dilakukan dengan mengecek nama perusahaan pembuatnya. Apakah memang benar perusahaan tersebut merupakan spesialisasi di bidang keamanan siber atau bukan. Karena pada umumnya, perusahaan keamanan siber membuat VPN gratis sebagai branding ke konsumen sehingga mereka tidak akan mempertaruhkan nama baik dengan pencurian data.

Selain itu, penggunaan VPN gratis yang berisiko tersusupi spyware sangat tidak disarankan dalam aktivitas transaksi e-channel perbankan. Baik internet banking maupun mobile banking.

VPN hadir guna memenuhi kebutuhan jaringan khusus yang aman dengan biaya yang lebih murah. Terlebih fitur keamanan VPN dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Sangat disayangkan jika penggunaan VPN yang seharusnya berguna untuk mengamankan data privasi malah membuat layanan, privasi, dan keamanan menjadi terbuka luas karena ketidakhati-hatian dalam memanfaatkannya.

Tepat tanggal 22 Mei 2019, Indonesia menghadirkan drama baru untuk merayakan hasil rekapitulasi Pilpres 2019 oleh KPU. Terpilihnya pasangan Jokowi-Ma’ruf menimbulkan banyak sikap kontra dari masyarakat Indonesia. Berbagai lapisan masyarakat berbondong-bondong memenuhi Ibu Kota untuk menyuarakan pendapatnya. Dan tidak menutup kemungkinan, terselip provokasi dari oknum yang tidak akan bertanggung jawab.

Satu hal yang menarik dari peristiwa tersebut adalah munculnya kebijakan pemerintah untuk membatasi penggunaan media sosial guna meminimalisasi tersebarnya berita hoax. Sebagai negara dengan pengguna media sosial mencapai 56% dari total populasi (berdasarkan riset We Are Social dan Hootsuite), memungkinkan masyarakatnya tidak bisa melepaskan diri dari media sosial.

Terbukti, masyarakat segera merespon kebijakan tersebut. Salah satu keluhan disampaikan warga net (netizen) melalui Twitter dengan tagar #instagramdown #whatsappdown. Dan tidak lama kemudian, tagar ini menjadi trending topic di twitter dalam beberapa hari.

VPN "Naik Daun"

Seperti judul buku dari kumpulan surat RA Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”, keluhan-keluhan netizen tersebut seolah menjumpai titik terang, muncullah rekomendasi penggunaan Virtual Private Network (VPN).

picture

VPN mendadak naik daun dan menjadi primadona bagi mayoritas pegiat media sosial. Pasalnya, banyak dari mereka yang bahkan menggantungkan aktivitasnya pada platform media sosial dalam menjalin komunikasi dengan keluarga, pekerjaan, hingga bisnis online.

Pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha mengungkapkan bahwa VPN secara sederhana dapat dipahami sebagai tunnel atau jalur khusus dari penyedia layanan VPN yang memungkinkan pengguna berkamuflase dengan alamat IP untuk bisa masuk ke situs yang terblokir.

Namun, selayaknya mata uang, VPN juga memiliki dua sisi yang berisi kekurangan dan kelebihan. Penggunaan yang tidak hati-hati dan minimnya literasi digital membuat VPN cenderung memberikan dampak negatif bahkan beralih menjadi hal yang membahayakan.

Waspadai dan Pahami Risiko VPN Gratis

Popularitas VPN di kalangan pengguna internet yang meluas akhirnya membuat para pengembang menyediakan dua versi VPN, yakni VPN secara gratis dan berbayar. Sudah dipastikan bahwa VPN berbayar menghadirkan keamanan yang lebih dibandingkan VPN gratis, karena VPN berbayar biasanya dibuat oleh perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber.

Yang gratis memang menggoda, namun penggunaan VPN yang gratis cukup berisiko. Beberapa bahaya yang mengintai penggunaan VPN gratis adalah trojan, adware, malvertising, atau bahkan spyware. Selain itu, serangan Man in the Middle (serangan terhadap komputer yang saling berhubungan satu sama lain) juga tidak jarang untuk menghampiri.

Risiko tersebut menghadirkan potensi si penyerang berada di tengah jalur komunikasi untuk membaca, membajak, dan mencuri data serta yang paling buruk adalah menyisipkan malware. Sebab, secara sistematis, VPN bekerja seperti terowongan dengan koneksi pengguna melewati jalur khusus dalam mengakses internet. Selayaknya terowongan, tidak mengherankan jika jalur tersebut memiliki banyak kebocoran.

picture

Cara Aman Menggunakan VPN Gratis

Menurut Alfons, pendiri ID Institute, penggunaan VPN gratis dapat dilakukan dengan mengecek nama perusahaan pembuatnya. Apakah memang benar perusahaan tersebut merupakan spesialisasi di bidang keamanan siber atau bukan. Karena pada umumnya, perusahaan keamanan siber membuat VPN gratis sebagai branding ke konsumen sehingga mereka tidak akan mempertaruhkan nama baik dengan pencurian data.

Selain itu, penggunaan VPN gratis yang berisiko tersusupi spyware sangat tidak disarankan dalam aktivitas transaksi e-channel perbankan. Baik internet banking maupun mobile banking.

VPN hadir guna memenuhi kebutuhan jaringan khusus yang aman dengan biaya yang lebih murah. Terlebih fitur keamanan VPN dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Sangat disayangkan jika penggunaan VPN yang seharusnya berguna untuk mengamankan data privasi malah membuat layanan, privasi, dan keamanan menjadi terbuka luas karena ketidakhati-hatian dalam memanfaatkannya.