by Putri Aprilia - Mon 09:42:10 May 20 2019

picture

Apabila membahas tentang perkembangan teknologi memang tidak ada habisnya. Sebut saja bagaimana pesatnya kemajuan Artificial Intelligent (AI), Machine Learning, dan Deep Learning melahirkan aplikasi chatbot. Lalu menyusul perkembangan Chatbot atau Bots, yaitu program komputer yang dirancang untuk merespon percakapan teks (atau chat) dengan manusia dalam natural language melalui aplikasi pesan, situs web, atau aplikasi seluler.

Alan Turing mempublikasikan artikel terkenalnya “Computing Machinery and Intelligence”, yang mengemukakan tes Turing sebagai suatu kriteria kecerdasan pada tahun 1950. Kriteria penilaian tersebut bergantung pada kemampuan suatu program komputer untuk meniru manusia dalam bentuk percakapan tertulis dengan manusia sebagai penilai.

Berdasarkan tes Turing, suatu program komputer akan dikatakan baik apabila pengguna sulit membedakan -berdasarkan percakapannya saja- sedang berhadapan dengan program komputer atau dengan manusia.

Perkembangan Chatbot

Pengujian pernah dilakukan terhadap ELIZA, chatbot yang dirilis oleh Massachusetts Institute of Technology, pada tahun 1966. Hasil pengujian terhadap ELIZA dinilai “cerdas” oleh manusia. ELIZA dirancang sebagai chatbot yang memiliki perilaku berbahasa seperti manusia dalam berinteraksi atau chatting dengan lawan bicara manusia. Dalam sejarahnya, selain ELIZA, terdapat beberapa chatbot yang sukses dikembangkan, seperti ALICE, Julia, Cleverbot, dan lain sebagainya.

Chatbot kini terus berkembang, apalagi setelah dunia komputer kini dapat melakukan penambangan data dengan lebih baik dengan hadirnya machine learning. Informasi dalam kerangka percakapan yang diperoleh mesin chatbot berguna untuk mengembangkan AI ke arah yang lebih baik. Pengumpulan data ini membuat chatbot semakin canggih dan pintar dalam merespons percakapan. Hal itu karena chatbot mampu merekam dan menganalisis percakapan lawan bicaranya ketika sedang melakukan percakapan dengan seseorang.

Salah satu perusahaan yang cukup serius menggarap teknologi chatbot ini adalah Google. Google Assistant menjadi sebuah chatbot di aplikasi pesan instan milik Google, yaitu Allo. Melalui Allo, Google Assistant dapat ditanya apa pun oleh sang penggunanya. virtual assistant yang dikembangkan oleh Google ini tersedia di perangkat telepon pintar. Kini, Google Assistant telah dan sedang diperluas untuk mendukung berbagai macam perangkat, termasuk mobil dan rumah pintar.

Peran Chatbot di kehidupan

Dalam perkembangannya, chatbot masa kini semakin canggih dan fungsinya semakin dekat dengan khalayak. Penggunaan chatbot telah masuk ke dalam ranah bisnis dalam sebuah skema bernama conversational commerce. Peran chatbot dalam dunia bisnis begitu menguntungkan. Pasalnya, para pengguna bisa membeli sesuatu hanya dengan berbincang dengan sang chatbot.

Chatbot bisa meminimalisasi tugas manusia dan juga bisa melakukan pemrosesan secara simultan dari beberapa permintaan pengguna. Selain itu, respons dari chatbot begitu cepat sehingga mampu mendapatkan loyalitas dari pelanggan.

Sistem percakapan otomatis yang semakin berkembang ini telah digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk membantu call center dalam memberikan panduan kontak. Selain itu, chatbot juga bisa membantu penawaran produk kepada customer. Banyak perusahaan di Indonesia yang telah memanfaatkan chatbot ini. Konsumen juga dapat bertanya mengenai produk dan promo terbaru.

Dengan perkembangan chatbot yang semakin pintar, kebutuhan manusia untuk mendapatkan informasi akurat serta respons yang baik dan cepat dapat terpenuhi. Perannya dalam berbagai ranah juga sangat memudahkan berbagai urusan manusia. Hal itulah yang membuat interaksi manusia dengan robot atau mesin menjadi hal yang umum.

Diolah dari beberapa sumber

picture

Apabila membahas tentang perkembangan teknologi memang tidak ada habisnya. Sebut saja bagaimana pesatnya kemajuan Artificial Intelligent (AI), Machine Learning, dan Deep Learning melahirkan aplikasi chatbot. Lalu menyusul perkembangan Chatbot atau Bots, yaitu program komputer yang dirancang untuk merespon percakapan teks (atau chat) dengan manusia dalam natural language melalui aplikasi pesan, situs web, atau aplikasi seluler.

Alan Turing mempublikasikan artikel terkenalnya “Computing Machinery and Intelligence”, yang mengemukakan tes Turing sebagai suatu kriteria kecerdasan pada tahun 1950. Kriteria penilaian tersebut bergantung pada kemampuan suatu program komputer untuk meniru manusia dalam bentuk percakapan tertulis dengan manusia sebagai penilai.

Berdasarkan tes Turing, suatu program komputer akan dikatakan baik apabila pengguna sulit membedakan -berdasarkan percakapannya saja- sedang berhadapan dengan program komputer atau dengan manusia.

Perkembangan Chatbot

Pengujian pernah dilakukan terhadap ELIZA, chatbot yang dirilis oleh Massachusetts Institute of Technology, pada tahun 1966. Hasil pengujian terhadap ELIZA dinilai “cerdas” oleh manusia. ELIZA dirancang sebagai chatbot yang memiliki perilaku berbahasa seperti manusia dalam berinteraksi atau chatting dengan lawan bicara manusia. Dalam sejarahnya, selain ELIZA, terdapat beberapa chatbot yang sukses dikembangkan, seperti ALICE, Julia, Cleverbot, dan lain sebagainya.

Chatbot kini terus berkembang, apalagi setelah dunia komputer kini dapat melakukan penambangan data dengan lebih baik dengan hadirnya machine learning. Informasi dalam kerangka percakapan yang diperoleh mesin chatbot berguna untuk mengembangkan AI ke arah yang lebih baik. Pengumpulan data ini membuat chatbot semakin canggih dan pintar dalam merespons percakapan. Hal itu karena chatbot mampu merekam dan menganalisis percakapan lawan bicaranya ketika sedang melakukan percakapan dengan seseorang.

Salah satu perusahaan yang cukup serius menggarap teknologi chatbot ini adalah Google. Google Assistant menjadi sebuah chatbot di aplikasi pesan instan milik Google, yaitu Allo. Melalui Allo, Google Assistant dapat ditanya apa pun oleh sang penggunanya. virtual assistant yang dikembangkan oleh Google ini tersedia di perangkat telepon pintar. Kini, Google Assistant telah dan sedang diperluas untuk mendukung berbagai macam perangkat, termasuk mobil dan rumah pintar.

Peran Chatbot di kehidupan

Dalam perkembangannya, chatbot masa kini semakin canggih dan fungsinya semakin dekat dengan khalayak. Penggunaan chatbot telah masuk ke dalam ranah bisnis dalam sebuah skema bernama conversational commerce. Peran chatbot dalam dunia bisnis begitu menguntungkan. Pasalnya, para pengguna bisa membeli sesuatu hanya dengan berbincang dengan sang chatbot.

Chatbot bisa meminimalisasi tugas manusia dan juga bisa melakukan pemrosesan secara simultan dari beberapa permintaan pengguna. Selain itu, respons dari chatbot begitu cepat sehingga mampu mendapatkan loyalitas dari pelanggan.

Sistem percakapan otomatis yang semakin berkembang ini telah digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk membantu call center dalam memberikan panduan kontak. Selain itu, chatbot juga bisa membantu penawaran produk kepada customer. Banyak perusahaan di Indonesia yang telah memanfaatkan chatbot ini. Konsumen juga dapat bertanya mengenai produk dan promo terbaru.

Dengan perkembangan chatbot yang semakin pintar, kebutuhan manusia untuk mendapatkan informasi akurat serta respons yang baik dan cepat dapat terpenuhi. Perannya dalam berbagai ranah juga sangat memudahkan berbagai urusan manusia. Hal itulah yang membuat interaksi manusia dengan robot atau mesin menjadi hal yang umum.

Diolah dari beberapa sumber