by Anto | Suradiyanto - Mon 07:21:33 May 20 2019

Pekan lalu saya bertemu dengan sahabat dekat saya. Sahabat saya ini bukan seorang aktivitis partai, bukan pejabat pemerintah, bukan anggota DPR, apalagi pengamat politik. Bukan! Ia sama seperti saya, juga jadi wirausahawan. Hanya bidang usahanya saja yang berbeda, saya IT, ia kuliner. Dan tak begitu paham kasak kusuk dunia politik.

Kami berbicara mengenai banyak hal. Yang menarik adalah ketika kami mulai menyentuh area politik. Mungkin sama seperti Anda, saat ini, jika kita ngomong masalah politik, suasana segera berubah menjadi memanas jika lawan bicara kita berbeda pandangan dengan kita. Jangan khawatir, saya tak ingin bercerita lebih banyak tentang pembicaraan kami, karena kami memutuskan untuk tidak menanggapi lebih jauh. Dan akhirnya mengubah arah pembicaraan, sehingga suasana mencair kembali.

Peran Sosial Media

picture Jika saya mengulang pembicaraan itu, dapat saya pahami mengapa sahabat saya terlihat bersikeras mempertahankan pendapatnya. Terlebih, meskipun bukan aktifis salah satu partai namun ia termasuk aktif di sosial media. Tentu, sedikit banyak gaya pemikirannya akan terpengaruh oleh apa yang dibicarakan di sosial media.

>“Kode memprogram komputer kita, buku memprogram otak kita, dan sosial media memprogram masyarakat kita” - Robin Ma’rufi.

Seorang pemimpin besar ribuan tahun lalu mengatakan “siapa yang menguasai opini masyarakat, akan menguasai dunia”. Sehingga tak jarang pada musim pemilu, bertebaran aplikasi yang mengukur tingkat elektabilitas calon presiden dan wakil presiden didasarkan pada parameter yang sederhana, yaitu apa yang dibicarakan oleh publik di media sosial mengenai calon presiden dan wakilnya.

Benar, memang pembicaraan publik di media sosial tidak dapat merepresentasikan pendapat dari seluruh rakyat di Indonesia. Namun pembicaran publik dapat mempengaruhi opini bahkan dapat menciptakan opini sesuai yang diinginkan. Napoleon mengatakan “ten people who speak make more noise than ten thousand who are silent.

picture Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh Chris Hughes, co-founder Facebook yang telah keluar dari Facebook bertahun-tahun lalu. Bulan lalu ketika mengunjungi Mark Zuckerberg - CEO Founder Facebook, ia bahkan menganjurkan peran Facebook harus dipecah. Ia tak menyangka bahwa Facebook akan menjadi raksasa yang bahkan mengancam demokrasi seperti saat ini. Mengontrol bagaimana kita berbicara. Menggiring opini, dan bahkan beberapa kali terlibat dalam mengarahkan pendapat politik publik.

Pembicaraan publik hampir menyebabkan perang nuklir

Tiga tahun yang lalu hampir saja hoax berakibat perang nuklir antara Israel dan Pakistan, penyebabnya adalah adanya berita palsu yang memuat pernyataan Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon yang menyatakan akan menghancurkan Pakistan jika bersikeras mengirim pasukan darat ke Suriah. Berita palsu tersebut sontak membuat Menteri Pertahanan Pakistan Muhammad Asif marah. Ia mengingatkan bahwa Pakistan juga merupakan negara nuklir dan ia mengancam akan menyerang balik dengan kekuatan nuklir.

Beruntung perang tak terjadi dan suhu yang sempat memanas mulai menurun kembali ketika Menteri Pertahanan Israel memberikan klarifikasi dihari yang sama, juga melalui Twitter bahwa pernyataan yang dikutip oleh kantor berita lokal Israel itu adalah hoax semata.

Meskipun juga setelah kejadian ini banyak ahli yang mengatakan bahwa ini hanyalah bagian dari propaganda belaka, hanya testing the water respon dari suatu lawan politik. Hanya untuk mengukur apa respon lawan ketika salah satu berencana melakukan sesuatu. Tidak perlu reaktif ketika menangani dan menjawab hoax. Saya juga tak ingin menulis banyak mengenai kasus hoax ini. Saya lebih suka megajak untuk mendeteksi, apakah kita terpengaruh hoax?

Pertahanan terhadap hoax

Jika kita hanya menyandarkan sumber berita dari omongan di grup whatsapp, atau pembicaraan di media sosial, atau artikel dari sumber yang belum kredibel, bisa jadi pola pikir kita akan rentan terhadap pengaruh hoax.

Ketika ada suatu berita, terlepas itu hoax atau fakta, mari kita cek kembali histori dari mana kita mendapatkan berita itu. Apa saja yang kita buka di web browser kita, apa saja yang telah kita baca dan bicarakan, siapa saja kawan, sahabat, ahli atau publik figur yang dibicarakan. Dan apakah kita, secara sadar atau tidak menjadi endorser dari berita tersebut.

Atau daripada bersibuk diri memeriksa apakah suatu berita tersebut hoax atau bukan, mari kita rajin memperkaya diri dengan berbagai informasi dan karya ilmiah dari sumber yang kredibilitasnya bisa dipercaya. Selain medsos, bacalah buku. Selain whatsapp, datangilah ahlinya secara langsung. Dengan begitu, meskipun kita tak dapat bebas dari pengaruh hoax, setidaknya kita memiliki perspektif lain terhadap suatu berita yang lebih kredibel.

Pekan lalu saya bertemu dengan sahabat dekat saya. Sahabat saya ini bukan seorang aktivitis partai, bukan pejabat pemerintah, bukan anggota DPR, apalagi pengamat politik. Bukan! Ia sama seperti saya, juga jadi wirausahawan. Hanya bidang usahanya saja yang berbeda, saya IT, ia kuliner. Dan tak begitu paham kasak kusuk dunia politik.

Kami berbicara mengenai banyak hal. Yang menarik adalah ketika kami mulai menyentuh area politik. Mungkin sama seperti Anda, saat ini, jika kita ngomong masalah politik, suasana segera berubah menjadi memanas jika lawan bicara kita berbeda pandangan dengan kita. Jangan khawatir, saya tak ingin bercerita lebih banyak tentang pembicaraan kami, karena kami memutuskan untuk tidak menanggapi lebih jauh. Dan akhirnya mengubah arah pembicaraan, sehingga suasana mencair kembali.

Peran Sosial Media

picture Jika saya mengulang pembicaraan itu, dapat saya pahami mengapa sahabat saya terlihat bersikeras mempertahankan pendapatnya. Terlebih, meskipun bukan aktifis salah satu partai namun ia termasuk aktif di sosial media. Tentu, sedikit banyak gaya pemikirannya akan terpengaruh oleh apa yang dibicarakan di sosial media.

>“Kode memprogram komputer kita, buku memprogram otak kita, dan sosial media memprogram masyarakat kita” - Robin Ma’rufi.

Seorang pemimpin besar ribuan tahun lalu mengatakan “siapa yang menguasai opini masyarakat, akan menguasai dunia”. Sehingga tak jarang pada musim pemilu, bertebaran aplikasi yang mengukur tingkat elektabilitas calon presiden dan wakil presiden didasarkan pada parameter yang sederhana, yaitu apa yang dibicarakan oleh publik di media sosial mengenai calon presiden dan wakilnya.

Benar, memang pembicaraan publik di media sosial tidak dapat merepresentasikan pendapat dari seluruh rakyat di Indonesia. Namun pembicaran publik dapat mempengaruhi opini bahkan dapat menciptakan opini sesuai yang diinginkan. Napoleon mengatakan “ten people who speak make more noise than ten thousand who are silent.

picture Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh Chris Hughes, co-founder Facebook yang telah keluar dari Facebook bertahun-tahun lalu. Bulan lalu ketika mengunjungi Mark Zuckerberg - CEO Founder Facebook, ia bahkan menganjurkan peran Facebook harus dipecah. Ia tak menyangka bahwa Facebook akan menjadi raksasa yang bahkan mengancam demokrasi seperti saat ini. Mengontrol bagaimana kita berbicara. Menggiring opini, dan bahkan beberapa kali terlibat dalam mengarahkan pendapat politik publik.

Pembicaraan publik hampir menyebabkan perang nuklir

Tiga tahun yang lalu hampir saja hoax berakibat perang nuklir antara Israel dan Pakistan, penyebabnya adalah adanya berita palsu yang memuat pernyataan Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon yang menyatakan akan menghancurkan Pakistan jika bersikeras mengirim pasukan darat ke Suriah. Berita palsu tersebut sontak membuat Menteri Pertahanan Pakistan Muhammad Asif marah. Ia mengingatkan bahwa Pakistan juga merupakan negara nuklir dan ia mengancam akan menyerang balik dengan kekuatan nuklir.

Beruntung perang tak terjadi dan suhu yang sempat memanas mulai menurun kembali ketika Menteri Pertahanan Israel memberikan klarifikasi dihari yang sama, juga melalui Twitter bahwa pernyataan yang dikutip oleh kantor berita lokal Israel itu adalah hoax semata.

Meskipun juga setelah kejadian ini banyak ahli yang mengatakan bahwa ini hanyalah bagian dari propaganda belaka, hanya testing the water respon dari suatu lawan politik. Hanya untuk mengukur apa respon lawan ketika salah satu berencana melakukan sesuatu. Tidak perlu reaktif ketika menangani dan menjawab hoax. Saya juga tak ingin menulis banyak mengenai kasus hoax ini. Saya lebih suka megajak untuk mendeteksi, apakah kita terpengaruh hoax?

Pertahanan terhadap hoax

Jika kita hanya menyandarkan sumber berita dari omongan di grup whatsapp, atau pembicaraan di media sosial, atau artikel dari sumber yang belum kredibel, bisa jadi pola pikir kita akan rentan terhadap pengaruh hoax.

Ketika ada suatu berita, terlepas itu hoax atau fakta, mari kita cek kembali histori dari mana kita mendapatkan berita itu. Apa saja yang kita buka di web browser kita, apa saja yang telah kita baca dan bicarakan, siapa saja kawan, sahabat, ahli atau publik figur yang dibicarakan. Dan apakah kita, secara sadar atau tidak menjadi endorser dari berita tersebut.

Atau daripada bersibuk diri memeriksa apakah suatu berita tersebut hoax atau bukan, mari kita rajin memperkaya diri dengan berbagai informasi dan karya ilmiah dari sumber yang kredibilitasnya bisa dipercaya. Selain medsos, bacalah buku. Selain whatsapp, datangilah ahlinya secara langsung. Dengan begitu, meskipun kita tak dapat bebas dari pengaruh hoax, setidaknya kita memiliki perspektif lain terhadap suatu berita yang lebih kredibel.