by Muqorrobien Marufi - Mon 05:17:15 May 6 2019

Jaringan sosial mulai dikenalkan pada tahun 90-an. Menurut Wikipedia, pada waktu itu Theglobe, GeoCities, dan Tripod mengenalkan metode baru cara berinteraksi antar sesama manusia. Ketiganya masing-masing membentuk aplikasi web komunitas online. Melalui komunitas ini mereka mengajak penggunanya saling berkomunikasi melalui ruang chat yang kemudian dikenal dengan nama chat room.

Tahun 2005, jaringan sosial menjadi semakin populer. Myspace dan Facebook yang tumbuh sebagai start up penyedia jejaring sosial bahkan lebih populer daripada Google pada waktu itu. Lima tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 2010, tercatat lebih dari 200 jejaring sosial dengan fitur yang kurang lebih sama muncul meramaikan pilihan jaringan sosial di dunia maya.

Melihat kepopuleran ini, jaringan sosial mulai dilirik lingkup bisnis pada tahun 2010, banyak perusahaan mulai mencoba mengadopsi jaringan sosial dalam membantu kolaborasi antar pekerjanya. Bahkan Gartner dalam survey (2010) menyebutkan, sejumlah 50% perusahaan akan mengadopsi jaringan sosial pada tahun 2012.

Apa itu ESN?

Enterprise sosial network adalah jaringan sosial suatu perusahaan yang terdapat pekerja, pelanggan, partner, stakeholder saling berinteraksi, berkolaborasi, bertukar data dan bahkan perilaku (dalam menyelesaikan masalah pekerjaan). Tujuan utama dari ESN adalah untuk mengumpulkan dan bertukar pengetahuan, menimbulkan dan menjaga keharmonisan hubungan antar stakeholder terkait, dan meningkatkan value added (nilai tambah) bagi perusahaan.

Poin utamanya adalah bagaimana perusahaan dapat menyediakan social network bagi stakehoder-stakeholder dapat berkomunikasi dan bertukar informasi atau aktifitas pekerjaan. Sehingga melalui ESN, aktivitas sosial pekerja, pelanggan, prospek, dan partner dapat terjalin melalui berbagai media seperti: corporate email, instant messaging, telepon, dokumen, dan corporate social media yang terintegrasi. Sehingga kolaborasi semakin produktif, efektif, dan efisien.

Keuntungan Penerapan ESN

McKinsey & Co menyebutkan 90% perusahaan yang mengadopsi ESN berhasil mendapatkan berbagai keuntungan. Teknologi sosial ini secara khusus jika digunakan untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi akan meningkatkan produktifitas para pekerjanya sebesar 20-25%.

picture gambar: Keuntungan Penerapan ESN pada Perusahaan

Tak hanya itu, pekerja dapat mengasah keahlian dan menentukan bidang keahliannya, pertukaran database dan knowledge, pertukaran best practice menyelesaikan pekerjaan, mempercepat bagaimana memecahkan suatu masalah pekerjaan, memotong rantai pengambilan keputusan, dan mencegah delegasi pekerjaan yang tumpang tindih.

Ditingkat lanjut, ESN bahkan dapat memberikan penilaian dini ketika suatu proyek akan sukses atau gagal jika dijalankan, memberikan prediksi sales pipeline, mengidentifikasikan tokoh-tokoh kunci, dan secara proaktif mengukur resiko yang akan terjadi.

Hati-hati, 80% Perusahaan Gagal Menerapkan ESN

Disadur dari survey yang dilakukan Gartner, rata-rata 80% penerapan ESN dalam perusahaan akan mengalami kegagalan dalam waktu 3 tahun. Membuktikan bahwa mengenalkan aplikasi sosial networking baru tidak dapat menjamin semua karyawan secara suka rela mau menggunakannya. Terlebih lagi, tak jarang penambahan aplikasi baru hanya akan membuat mereka merubah alur dan cara bekerja yang sudah biasa mereka lakukan. Bagi pekerja yang “sibuk” atau yang merasa “overworked” akan memberikan respon negatif terhadap penerapan aplikasi ini.

Tantangan-tantangan penyebab kegagalan penerapan ESN, yaitu:

1. Tujuan penerapan ESN kurang jelas. Perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas ketika menentukan akan mengimplementasikan ESN. Apakah akan digunakan untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi, ataukah untuk menciptakan knowledge management system, ataukah ditujukan untuk mendukung penjualan produk, atau untuk sebagai penggerak laju perusahaan? Objective yang kuat akan membantu perusahaan kembali ke jalur yang tepat, ketika menjumpai kendala di tengah jalan.

2. Dipaksa-terpaksa-bisa-biasa. Konsep perubahan yang biasa diterapkan oleh perusahaan-perusahaan besar ketika melakukan transformasi dan perubahan ini patut dipertimbangkan. Tak bisa dipungkiri bahwa perusahaan akan selalu memiliki karyawan yang masuk “zona nyaman”. Tak semua karyawan akan menyambut baik implementasi ini. Menghadapinya bukanlah perkara mudah. Nasihat Roger bagaimana sukses menerapkan perubahan dicantumkan dalam kurva berikut.

picture gambar: Rogers Innovation Adoption Curve

Fokuslah hanya pada para karyawan yang masuk dalam kategori Innovators (2,5%) dan Early Adapters (13,5%). Pekerja tipe ini memiliki karakter cepat beradaptasi dan semangat berpetualang. Dari kategori ini nantinya diharapkan muncul inisiator atau visioner sebagai penggerak implementasi ESN.

3. Kurangnya integrasi dengan fitur-fitur pendukung. Kebutuhan pekerja agar aktivitas kerjanya lancar memerlukan fitur seperti email, aplikasi office (word, excel, powerpoint, dll), update informasi, video, tutorial, chatting, dan sosial media - bersosialisasi dengan komunitasnya. Jika aplikasi ESN mampu memenuhi dan memungkinkan penambahan fitur-fitur atau integrasi dengan thirdparty penyedia layanan tersebut, dan pada akhirnya mampu mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan pekerja & perusahaan dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya, maka tingkat keberhasilan penerapan ESN akan semakin tinggi.

Kesimpulan

Paradox ESN, memiliki tujuan untuk menyediakan sarana pengembangan keahlian pekerja dan perusahaan, namun justru mendapatkan resistensi dari pekerja atau perusahaan itu sendiri. Ada kendala-kendala atau lebih tepatnya tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan ESN.

Namun jika tokoh kunci dalam perusahaan memiliki visi yang jelas dan kuat mengenai mengapa ESN diterapkan, maka ESN akan menjadi tool yang tak hanya dapat diimplementasikan dengan baik, namun juga akan memberikan nilai lebih yang sangat besar. Dan pada akhirnya baik pekerja ataupun perusahaan akan mendapatkan manfaat dan menggunakan ESN dalam aktifitas pekerjaanya sehari-hari dengan sepenuhnya.

Jaringan sosial mulai dikenalkan pada tahun 90-an. Menurut Wikipedia, pada waktu itu Theglobe, GeoCities, dan Tripod mengenalkan metode baru cara berinteraksi antar sesama manusia. Ketiganya masing-masing membentuk aplikasi web komunitas online. Melalui komunitas ini mereka mengajak penggunanya saling berkomunikasi melalui ruang chat yang kemudian dikenal dengan nama chat room.

Tahun 2005, jaringan sosial menjadi semakin populer. Myspace dan Facebook yang tumbuh sebagai start up penyedia jejaring sosial bahkan lebih populer daripada Google pada waktu itu. Lima tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 2010, tercatat lebih dari 200 jejaring sosial dengan fitur yang kurang lebih sama muncul meramaikan pilihan jaringan sosial di dunia maya.

Melihat kepopuleran ini, jaringan sosial mulai dilirik lingkup bisnis pada tahun 2010, banyak perusahaan mulai mencoba mengadopsi jaringan sosial dalam membantu kolaborasi antar pekerjanya. Bahkan Gartner dalam survey (2010) menyebutkan, sejumlah 50% perusahaan akan mengadopsi jaringan sosial pada tahun 2012.

Apa itu ESN?

Enterprise sosial network adalah jaringan sosial suatu perusahaan yang terdapat pekerja, pelanggan, partner, stakeholder saling berinteraksi, berkolaborasi, bertukar data dan bahkan perilaku (dalam menyelesaikan masalah pekerjaan). Tujuan utama dari ESN adalah untuk mengumpulkan dan bertukar pengetahuan, menimbulkan dan menjaga keharmonisan hubungan antar stakeholder terkait, dan meningkatkan value added (nilai tambah) bagi perusahaan.

Poin utamanya adalah bagaimana perusahaan dapat menyediakan social network bagi stakehoder-stakeholder dapat berkomunikasi dan bertukar informasi atau aktifitas pekerjaan. Sehingga melalui ESN, aktivitas sosial pekerja, pelanggan, prospek, dan partner dapat terjalin melalui berbagai media seperti: corporate email, instant messaging, telepon, dokumen, dan corporate social media yang terintegrasi. Sehingga kolaborasi semakin produktif, efektif, dan efisien.

Keuntungan Penerapan ESN

McKinsey & Co menyebutkan 90% perusahaan yang mengadopsi ESN berhasil mendapatkan berbagai keuntungan. Teknologi sosial ini secara khusus jika digunakan untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi akan meningkatkan produktifitas para pekerjanya sebesar 20-25%.

picture gambar: Keuntungan Penerapan ESN pada Perusahaan

Tak hanya itu, pekerja dapat mengasah keahlian dan menentukan bidang keahliannya, pertukaran database dan knowledge, pertukaran best practice menyelesaikan pekerjaan, mempercepat bagaimana memecahkan suatu masalah pekerjaan, memotong rantai pengambilan keputusan, dan mencegah delegasi pekerjaan yang tumpang tindih.

Ditingkat lanjut, ESN bahkan dapat memberikan penilaian dini ketika suatu proyek akan sukses atau gagal jika dijalankan, memberikan prediksi sales pipeline, mengidentifikasikan tokoh-tokoh kunci, dan secara proaktif mengukur resiko yang akan terjadi.

Hati-hati, 80% Perusahaan Gagal Menerapkan ESN

Disadur dari survey yang dilakukan Gartner, rata-rata 80% penerapan ESN dalam perusahaan akan mengalami kegagalan dalam waktu 3 tahun. Membuktikan bahwa mengenalkan aplikasi sosial networking baru tidak dapat menjamin semua karyawan secara suka rela mau menggunakannya. Terlebih lagi, tak jarang penambahan aplikasi baru hanya akan membuat mereka merubah alur dan cara bekerja yang sudah biasa mereka lakukan. Bagi pekerja yang “sibuk” atau yang merasa “overworked” akan memberikan respon negatif terhadap penerapan aplikasi ini.

Tantangan-tantangan penyebab kegagalan penerapan ESN, yaitu:

1. Tujuan penerapan ESN kurang jelas. Perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas ketika menentukan akan mengimplementasikan ESN. Apakah akan digunakan untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi, ataukah untuk menciptakan knowledge management system, ataukah ditujukan untuk mendukung penjualan produk, atau untuk sebagai penggerak laju perusahaan? Objective yang kuat akan membantu perusahaan kembali ke jalur yang tepat, ketika menjumpai kendala di tengah jalan.

2. Dipaksa-terpaksa-bisa-biasa. Konsep perubahan yang biasa diterapkan oleh perusahaan-perusahaan besar ketika melakukan transformasi dan perubahan ini patut dipertimbangkan. Tak bisa dipungkiri bahwa perusahaan akan selalu memiliki karyawan yang masuk “zona nyaman”. Tak semua karyawan akan menyambut baik implementasi ini. Menghadapinya bukanlah perkara mudah. Nasihat Roger bagaimana sukses menerapkan perubahan dicantumkan dalam kurva berikut.

picture gambar: Rogers Innovation Adoption Curve

Fokuslah hanya pada para karyawan yang masuk dalam kategori Innovators (2,5%) dan Early Adapters (13,5%). Pekerja tipe ini memiliki karakter cepat beradaptasi dan semangat berpetualang. Dari kategori ini nantinya diharapkan muncul inisiator atau visioner sebagai penggerak implementasi ESN.

3. Kurangnya integrasi dengan fitur-fitur pendukung. Kebutuhan pekerja agar aktivitas kerjanya lancar memerlukan fitur seperti email, aplikasi office (word, excel, powerpoint, dll), update informasi, video, tutorial, chatting, dan sosial media - bersosialisasi dengan komunitasnya. Jika aplikasi ESN mampu memenuhi dan memungkinkan penambahan fitur-fitur atau integrasi dengan thirdparty penyedia layanan tersebut, dan pada akhirnya mampu mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan pekerja & perusahaan dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya, maka tingkat keberhasilan penerapan ESN akan semakin tinggi.

Kesimpulan

Paradox ESN, memiliki tujuan untuk menyediakan sarana pengembangan keahlian pekerja dan perusahaan, namun justru mendapatkan resistensi dari pekerja atau perusahaan itu sendiri. Ada kendala-kendala atau lebih tepatnya tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan ESN.

Namun jika tokoh kunci dalam perusahaan memiliki visi yang jelas dan kuat mengenai mengapa ESN diterapkan, maka ESN akan menjadi tool yang tak hanya dapat diimplementasikan dengan baik, namun juga akan memberikan nilai lebih yang sangat besar. Dan pada akhirnya baik pekerja ataupun perusahaan akan mendapatkan manfaat dan menggunakan ESN dalam aktifitas pekerjaanya sehari-hari dengan sepenuhnya.